
Saat anak masih kecil, ada saja tindakan kasih yang mereka lakukan, sampai terkadang membuat hati orang tua meleleh. Anak saya, Maryl (umur 2 tahun) setiap pagi selalu mencium pipi papanya agar papanya lekas bangun dan bermain sebentar dengan dia sebelum berangkat kerja. Waktu saya memerlukan sebuah barang, dia lekas membantu mengambil barang itu, dan pada saat dia berbuat salah, dia segera memberi tangannya ke saya dan bilang "maaf mama, maaf." Kasih yang polos, masih terbilang murni, tetapi seiring berjalannya waktu, anak anak yang penuh kasih itu, bisa saja berubah karena terkontaminasi dengan kondisi sekitarnya jika tidak dituntun dan diarahkan dalam jalan Tuhan.
Kisah yang sedang viral saat ini, di Bandung ada seorang dokter yg seharusnya melayani pasiennya dengan kasih, tetapi justru memanfaatkan anak pasiennya untuk memuaskan hawa nafsunya, padahal dia sudah beristri. Ini sungguh mengerikan! Dunia hari ini sungguh kehilangan makna kasih yang sesungguhnya. Disinilah seharusnya kasih murid Kristus dinyatakan. Sudahkah kasih kita, sebagai murid Kristus disampaikan pada dunia ini? Walaupun tidak perlu viral, tapi berdampak pada lingkungan sekitar kita.
Di minggu sengsara yang terakhir ini, kita akan merenungkan tema "Tinggal dalam Kasih-Ku" bacaan diambil dari Kitab Yohanes 15: 9-17. Mengapa kita perlu tinggal dalam Kasih Yesus? Sebab kasih Manusia telah tercemar oleh dosa, bersyarat, terbatas, bahkan seringkali berubah mengikuti situasi & kondisi yang berlangsung. Masih ingatkah kita tentang minggu palma, dimana orang banyak begitu bersorak dan menyambut Yesus dengan sukacita, dan berkata "Hosana bagi anak Daud! diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!" Tapi tak lama setelah kejadian itu, orang yang sama juga dengan penuh murka, berkata "salibkan Dia, salibkan Dia!" Apa yang dapat diandalkan dari kasih manusia yang mudah berubah seperti ini?
Berbicara tentang mengasihi sesama, hal ini masih berkaitan dengan hukum Kasih (Matius 22:37-40). Sangat mustahil bagi manusia mengasihi sesamanya dengan kasihnya sendiri. Murid Kristus memerlukan kasih Kristus dan tinggal dalam kasihNya. Melalui karya penebusan Kristus, kodrat manusia dipulihkan relasinya dengan Allah, sesama, dan dirinya. Karena itu, hukum kasih dapat diwujudkan apabila umat memberi ruang bagi Kristus sebagai Pembuat Firman. Hukum kasih bersifat ilahi dan kudus, sedangkan kodrat dan keberadaan manusia adalah cemar dan berdosa. Kondisi paradoks ini hanya dapat diatasi oleh Mesias, yaitu Yesus Kristus. Karena Kristus adalah benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Dengan kuasa-Nya, kita dimampukan mengenal dan mengasihi Allah sekaligus mengenal dan mengasihi sesama. Hanya kasih Kristuslah yang memampukan kita mengasihi sesama kita dengan benar.
Lalu apa maksudnya tinggal di dalam kasih Kristus? Seperti dalam ayat 10 dituliskan, "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya." Artinya, kita belajar taat dan menuruti perintah Kristus, sebagaimana Kristus taat perintah Bapa-Nya. Kristus dalam diri manusiawinya, di malam Getsemani Ia berdoa dan sangat bergumul untuk meminum cawan pahit (menanggung dosa manusia, terpisah dengan Bapa-Nya), saat itu peluhnya seperti tetesan darah karena sebegitunya Dia bergumul. Yesus memilih untuk taat. Dengan ketaatanNya itu Dia telah menang atas kuasa dosa, memberi keselamatan kekal bagi umat manusia. Jika kita ingin mengasihi seperti Kristus, maka ketaatan adalah satu satunya jalan yang harus ditempuh.
Bagaimana caranya agar kita selalu tinggal dalam Kasih Kristus? Hal yang sederhana tapi seringkali disepelekan, yaitu membaca & merenungkan firman Tuhan. Ketika kita rutin membaca firman Tuhan setiap harinya, bukan berarti kita jadi semakin pandai/khatam alkitab. Tetapi hidup kita makin diproses semakin paham karakter Kristus, dan karakter kita dibentuk makin serupa-Nya. Setiap kali kita merenungkan firman, maka itu akan tersimpan dengan baik dalam memori kita, dan disaat kita mengalami masa masa sulit, maka ayat alkitab itu akan muncul dan menguatkan kita. Teladan Kristus dalam Alkitab akan mengingatkan kita untuk tetap mengasihi walau disakiti, mengampuni walau dikhianati, bahkan dimampukan rela berkorban bagi sesama.
Lalu apa dampaknya jika kita tetap tinggal dalam Kasih Kristus? Ayat 11 mengatakan "semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh."
Ketika hidup kita dipenuhi kasih Kristus, maka kita akan dimampukan untuk mengasihi, mengampuni, menolong sesama, juga berdamai dengan diri kita di masa lalu. Terasa hidup ini jauh lebih ringan karena tidak lagi menyimpan dendam dan kepahitan. Hidup kita menjadi less drama, tidak mengasihani diri berlebihan, tidak hanya fokus pada diri sendiri, tapi belajar untuk mengasihi dan mempedulikan sesama. Semakin kita memaknai kasih Kristus dalam hidup kita, semakin pula kita terdorong untuk membagikan kasih kepada sesama. Sudah bukan bicara "aku" lagi, tapi "Kristus" yang hidup didalamku dan apalagi yang dapat aku lakukan bagi sesamaku?
Saudara, Kristus bukanlah pribadi yang hanya memberi perintah untuk mengasihi tanpa ada contoh konkrit. Kelahiran, kematian, kebangkitan-Nya menyatakan kasih yang terbesar. Karena IA begitu mengasihi kita. Seharusnya kasih Kristus terus menggerakkan kita juga untuk membalas kasihNya (walaupun tidak akan pernah sepadan) yaitu dengan mengasihi sesama kita. 1 Yohanes 3 ayat 18 berkata "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." Tinggal di dalam kasih Kristus tidak terjadi begitu saja, karena harus ada kemauan keras untuk mengusahakannya. Namun akan ada sukacita di dalamnya (ayat 11). Sebab itu jangan menyerah, tetaplah taat, dan percayalah Allah Roh Kudus akan senantiasa memampukan kita.
Selamat tinggal dalam Kasih Kristus dan selamat mengasihi sesama kita. Tuhan Yesus memberkati.