Renungan GKM

rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
The Cost of Love: Following Christ in His Suffering

“Allah akan Menolong Orang Yang Menolong Dirinya Sendiri.” Kalimat ini lahir dari paham “Self Help”. Sebuah gagasan yang baik bahwa kita harus melakukan apa yang kita bisa, dalam kuasa kita, untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri. Kesalahan dari paham ini adalah mengabaikan apa yang sudah rusak secara mendasar di dalam diri kita, yaitu manusia berdosa. Karena hanya Allah yang dapat melakukan ini. Jadi self help, sebuah cara memperbaiki kerusakan manusia secara tidak alkitabiah. Pada akhirnya paham self help mengarahkan orang-orang untuk bersandar pada diri sendiri dan bukan pada Allah.

Walaupun konsepnya berbeda, self help mirip dengan satu istilah lagi yakni self-love. Self-love adalah perilaku berupa mencintai dan memperlakukan diri sendiri dengan rasa hormat. Perilaku ini juga turut mendorong seseorang untuk merasa bahagia dan bangga dengan hidupnya. Namun, realitas di dunia nyata menunjukkan bahwa ketika kita terlalu fokus pada diri kita sendiri, semakin kita menjauh dari panggilan untuk mengasihi orang lain, termasuk mereka yang menderita.

Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ia tidak berkata, "Cintailah dirimu dan kejarlah kebahagiaan dunia," melainkan, "Barangsiapa ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku" (Matius 16:24).

Dunia mengajarkan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan tanpa penderitaan. Kita diajarkan untuk menghindari rasa sakit, mengutamakan kenyamanan, dan mencari kebahagiaan dengan segala cara. Kita lebih suka jalan yang mudah, jalan yang nyaman—bukan jalan salib. Tetapi inilah masalah besar: kasih sejati selalu memiliki harga.

Petrus Menolak Jalan Salib

Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau!" (Matius 16:22).

Kesalahan Petrus: Berpikir Seperti Dunia, Bukan Seperti Allah.

Petrus ingin Yesus menjadi Mesias yang penuh kemenangan, bukan Mesias yang menderita. Petrus menginginkan Yesus menjadi Raja yang berjaya, bukan Hamba yang menderita. Dia menginginkan kemuliaan tanpa salib.

Petrus mewakili semua murid pada masa itu hingga kita masa sekarang. Banyak dari kita yang mengakui Yesus sebagai Tuhan, tetapi tidak benar-benar mengikutiNya. Banyak dari kita menginginkan kekristenan tanpa penderitaan. Kita mendambakan berkat, kesuksesan, dan kenyamanan dan menghindari jalan salib. Banyak dari kita berkata percaya Yesus tapi tidak sungguh-sungguh percaya perkataanNya. Kita masih hidup dalam dosa dan kesenangan dunia.

Tentu ini bukan masalah yang sepele. Yesus dengan tegas menjawab:

"Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:23)

Tuhan ingin keputusan kita didasarkan pada kehendak-Nya dan bukan pada keinginan dan emosi kita sendiri. Ketika kita hidup berdasarkan perasaan kita dan ini tidak sesuai dengan Firman Tuhan, kita akhirnya mendukung kerajaan kegelapan.

Untuk memusatkan pikiran kita pada Allah, pertama-tama kita harus tunduk kepada Ketuhanan Kristus. Banyak orang Kristen secara keliru percaya bahwa penyerahan diri sepenuhnya kepada Ketuhanan Yesus Kristus adalah pilihan dan bahwa mereka dapat memilih perintah mana yang harus ditaati dan mana yang harus diabaikan. Berkomitmen kepada Ketuhanan Kristus berarti bertindak sesuai dengan kehendak-Nya.

Yesus Memilih Jalan Salib

Yesus tidak menghindari penderitaan. Dia tidak mencari jalan yang lebih mudah. Sebaliknya, Dia dengan sengaja memilih jalan salib, karena kasih-Nya kepada kita lebih besar daripada apapun juga.

  • Dia tahu bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
  • Dia tahu bahwa dosa harus dibayar dengan darah.
  • Dia tahu bahwa tanpa salib, kita semua akan binasa.

Kita dipanggil untuk mengikut Yesus dalam penderitaan: Sangkal diri, pikul salib dan ikut Dia senantiasa.

Pertanyaan Refleksi:

  1. Apakah kita akan memilih jalan kenyamanan, ataukah kita akan memilih jalan salib? Apakah kita siap mengasihi, bahkan ketika itu menyakitkan?
  2. Hidup kita bukan lagi milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan. Self help dan self love menawarkan solusi yang palsu, bagaimana Injil menawarkan sesuatu yang berbeda?
  3. Dalam hal apa saudara dapat mengakui ketuhanan Kristus dalam hidup saudara di masa Pra-Paskah ini?
Penulis : Ev. Amelia Runtuwene
Facebook
WhatsApp
Renungan Lainnya
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Lukas 9:23
Following Jesus Daily
Penulis : Pdt. Indra Lauw
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Matius 28:19-20
Kembali Ke Pokok Pokok Dasar
Penulis : Ps. Indra Darmawan
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 4 : 35 – 41
Keluarga Kristen di tengah goncangan dunia
Penulis : Ev. Ang Wie Hay
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 16 : 9–20
Kemenangan Kristus Memulihkan Hidup Kita, Meneguhkan Iman Kita, dan Menggerakkan Kita Menjalankan Misi-Nya
Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha