Renungan GKM

rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Sampai Maut Memisahkan

Banyak pasangan yang menikah mengharapkan pernikahan mereka langgeng dan penuh dengan kebahgaiaan. Namun sayang, banyak pernikahan yang berawal dengan baik, tapi beberapa waktu kemudian berakhir dengan buruk.

Akhir-akhir ini kita melihat Pernikahan sudah mengalami pergeseran atau penurunan nilai. Menikah, bercerai, kemudian menikah lagi lalu bercerai lagi seolah-olah hal itu sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa terjadi. Banyak pasangan sering mengambil short-cut ketika mengalami masalah dalam pernikahan. Tidak cocok, beda prinsip, merasa tidak dihargai, menjadi beberapa alasan yang paling gampang untuk bercerai. Mengapa demikian? Masalahnya, setelah menikah kehidupan pernikahan itu tidak seperti cerita dongeng yang happily ever after, berbahagia sampai selama-lamanya.

Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Ribut Rukun” menjelaskan mengapa buku itu diberi judul: Selamat Ribu Rukun, dan bukan Selamat Hidup Rukun. Sebetulnya hidup berkeluarga itu selalu ditandai dengan suasana RIBUT dan suasana RUKUN. Biar bagaimanapun rukunnya suatu keluarga, dalam kenyataannya pasti pernah terjadi keributan.

Pada umumnya penyebabnya adalah karena mereka saling mencintai. Mereka adalah orang-orang yang paling dekat dan paling kita andalkan. Karena itu kita mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap mereka. Namun, sebagai orang dekat, kita mudah sekali melihat keburukan mereka. Akhirnya kita menjadi kecewa, karena apa yang kita harapkan tidak sesuai. Akibatnya timbullah perasaan benci.

Melihat fenomena di zaman ini, sebagai orang Kristen kita perlu melihat kembali apa makna Pernikahan yang sesungguhnya?

  1. Pernikahan adalah Anugerah Tuhan untuk memenuhi Kebutuhan Manusia

Orang Kristen yang diberkati dalam pernikahan yang kudus harusnya memahami sungguh-sungguh bahwa pernikahan merupakan suatu karunia luar biasa dari Tuhan Yesus Kristus.

Membaca dan memperhatikan baik-baik Kejadian 1-2:18 kita dapat menemukan ADA sesuatu yang menarik perhatian di situ.

Di pasal satu menceritakan tentang Penciptaan dan Alkitab mencatat bahwa Allah melihat semua itu baik. Bahkan ditutup dengan kalimat: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, "SUNGGUH AMAT BAIK." Tiba-tiba di Kej. 2:18 Tuhan berkata: “TIDAK BAIK.”

Ini adalah pertama kalinya Tuhan mengatakan bahwa sesuatu dalam penciptaan-Nya tidak baik. Apanya yang tidak baik? “Tidak Baik” di sini tidak ada hubungannya dengan KARYA ciptaan-Nya. Tapi berhubungan dengan kebutuhan RELASI manusia ciptaan-Nya.

Memang benar, Tuhan Allah menciptakan Adam dengan sempurna, memberikan lingkungan yang nyaman dengan ciptaan lain yang bersahabat dengan dia, mencukupkan semua kebutuhannya dan terlebih memiliki persekutuan indah dan sempurna dengan Tuhan Allah Sang Pencipta-Nya. Seharusnya itu cukup bagi Adam untuk menikmati hidupnya.  Namun, Tuhan Allah tahu, ada kebutuhan lain yang lebih dibutuhkan oleh Adam. Ia membutuhkan teman yang sepadan untuk berhubungan dengannya.

David Atkinson dalam buku seri Pemahaman dan Penerapan Alkitab masa kini “Kejadian 1-11” menjelaskan perkataan ‘ezer kenegdo’ (bhs Ibrani) yang diterjemahkan “penolong yang sepadan”. Ezer artinya seorang yang membantu, yang melengkapi kekurangan dari orang yang dibantunya. Kata ‘kenegdo’ dalam bentuk kata benda menunjuk kepada seorang yang ulung/ahli. Jadi penolong yang sepadan” artinya: penolong yang ahli, yang melengkapi kekurangan orang yang dibantunya.

William Wenham, Genesis 1-15, menafsirkan kata ‘kenegdo’ sebagai opposite to – [seperti tangan kiri dan kanan]. Mirip tetapi tidak sama. Tapi jika disatukan, bisa KLOP. Kata ini berarti penolong yang Allah berikan kepada Adam adalah seseorang yang mirip tapi berbeda dari Adam dan berkontribusi bagi hidup Adam.

Pernikahan adalah anugerah Tuhan untuk memenuhi kebutuhan persahabatan manusia.

Sejak Hawa diciptakan, Adam tidak sendiri lagi dalam taman yang indah dan sempurna itu. Sekarang dia punya teman untuk berbagi cerita dan menikmati hidup yang Tuhan anugerahkan kepadanya serta menolong dan memperlengkapi apa yang kurang dari Adam untuk melakukan tugas panggilan di tengah dunia ini.

Percayalah, siapapun kita, Tuhan tahu kebutuhan kita. Tuhan tahu, seberapa mampu kita menjalani kehidupan yang Dia berikan. Pada waktunya, Dia pasti akan memberikan dan menyediakan apa yang kita butuhkan.

  1. Pernikahan adalah RANCANGAN Tuhan

Pernikahan adalah rencana Allah sejak dunia ini diciptakan. Karena Allah yang merencanakan, maka Allahlah yang paling tahu bagaimana seharusnya pernikahan itu berjalan. Kalau Allah tahu, seharusnya kita mengikuti perintah-Nya, supaya kita tidak salah.  Banyak pernikahan Kristen yang gagal karena tidak ada Tuhan di dalam pernikahan itu. Karena Tuhan dikesampingkan.

Pernikahan selalu digambarkan sebagai segitiga dengan Allah di puncaknya: semakin dekat setiap pasangan kepada Allah, semakin dekat mereka kepada satu sama lain. Semakin jauh setiap pasangan dari Allah, semakin jauh pula mereka satu sama lain. Begitu Adam dan Hawa tidak menaati Allah, mereka mengalami keterasingan satu sama lain dan Adam mulai menyalahkan Hawa atas masalahnya. Rasul Paulus mengingatkan dalam Efesus 5:22-25 tentang bagaimana menjalani pernikahan sesuai firman Tuhan dan Kasih Kristus harus dasar hidup suami isteri.

Firman Tuhan dalam perikop ini juga memberi dasar-dasar yang kita butuhkan untuk sebuah pernikahan yang memuaskan.  Allah tidak menciptakan laki-laki lain untuk Adam, melainkan seorang perempuan. Itulah sebabnya “Pernikahan sesama jenis” bukan rancangan Allah dari semula, melainkan penyimpangan dari pernikahan. Rancangan Allah bagi pernikahan adalah menyatukan dua pribadi, antara laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan yang unik.

Kejadian 2:24 berbunyi: "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging."

Kisah tentang pernikahan pertama ini juga dengan jelas mengajarkan bahwa Allah merancang pernikahan yang mencakup unsur seks di dalamnya. Banyak orang Kristen berpikir bahwa gagasan tentang seks itu tidak alkitabiah. Bahkan ada sebagian orang berpikir bahwa seks adalah dosa asal.

Jika kita perhatikan baik-baik tentang bagaimana perikop ini menggambarkan penciptaan Hawa, kita akan menemukan bahwa Allah membentuk seorang perempuan dari tulang rusuk laki-laki.  Kata “Dibentuk” secara harfiah berarti “dibangun.” Kata kerja yang dipakai di sini menggambarkan Allah sebagai seorang pemahat, yang dengan hati-hati dan sengaja membentuk perempuan itu menjadi makhluk yang akan memenuhi kebutuhan Adam.

Respon Adam ketika Allah membawa Hawa kepadanya sangat luar biasa. Ia sangat menyukai dan puas. Kata-kata pertama dari manusia pertama yang tercatat di ayat 23: “Inilah dia” sama artinya: Akhirnya, Ini dia!" Ingat, Adam telah mencari di antara semua hewan untuk mencari satu yang sesuai dengannya dan tidak menemukan apa pun. Ketika Tuhan membawa Hawa kepadanya, dia berteriak, Akhirnya, ini dia!" Allah mempertemukan Hawa dengan Adam sebagai hadiah-Nya yang dibuat dengan sangat indah, sempurna untuk kebutuhan Adam yang terdalam.

Ayat-ayat ini mengajarkan kita sesuatu yang penting: Allah ingin kita menikmati pernikahan termasuk seks dalam pernikahan. Seks di luar pernikahan adalah dosa, karena itu tidak sesuai dalam rancangan Allah. Satu hal lagi yang perlu kita garis bawahi: “Bersatu dengan istrinya” (bukan dengan istri-istrinya) di ayat 24 ini mengajarkan bahwa pernikahan yang dirancang Allah adalah Pernikahan Monogami, Satu suami dan satu istri. Allah merancang Pernikahan Kristen seperti itu. Kita perlu menganggap pernikahan dan seks dalam pernikahan sebagai pemberian Tuhan yang baik, yang dirancang untuk kesenangan kita, untuk memenuhi kebutuhan terdalam kita dan itu harus disyukuri.

  1. Pernikahan adalah KOMITMEN antara Suami, Istri dan Allah

Janji Pernikahan Kristen yang melibatkan komitmen untuk saling setia hingga maut memisahkan mencerminkan kesetiaan yang tidak tergoyahkan dan komitmen seumur hidup. Janji ini adalah cerminan dari kasih dan kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya. Ini bukan sekedar syarat yang harus ada dalam pemberkatan di gereja dan bukan sekedar janji yang diucapkan di hadapan pendeta, jemaat, keluarga dan saksi-saksi yang hadir dalam pernikahan tersebut. Ini adalah perjanjian di hadapan Tuhan, pencipta langit dan bumi yang sudah mempertemukan dan mempersatukan mereka.

Ketika mereka melanggar, mereka tidak hanya bertanggung jawab kepada sesama tetapi juga kepada Allah, pemrakarsa pernikahan.

Di dalam Maleakhi 2:16, disebutkan bahwa Allah membenci perceraian. Allah memandang pernikahan sebagai lembaga ilahi yang kudus dan permanen. “Perceraian bukanlah bagian dari rencana Tuhan untuk manusia

Selain dalam banyak cerita dongeng, tidak pernah ada jaminan bahwa pasangan yang menikah akan hidup bahagia selamanya. Tatkala dua pribadi lawan jenis dari latar belakang yang berbeda, dipersatukan dalam ikatan pernikahan, kehidupannya akan diwarnai dengan berbagai masalah, bahkan terkadang masalah itu begitu rumit dan saling menyakitkan. Apakah pernikahan yang kita awali dengan komitmen hanya maut yang akan memisahkan kita akan dengan mudahnya kita akhiri dengan perceraian?

Pdt. Paul Gunadi dalam program Telaga mengatakan:  3 hal yang harus  dilakukan sebagai pasutri untuk MENJAGA PERNIKAHAN SAMPAI MAUT MEMISAHKAN:

MENJAGA HATI:  Sebagai manusia kita dapat dan akan tertarik kepada orang lain yang mungkin saja lebih menawan dan lebih baik daripada pasangan sendiri. Namun kita harus mengingatkan diri akan komitmen pernikahan yang telah dibuat. Singkat kata, kita mesti dengan tegas berkata bahwa di

dalam hati kita, tidak ada ruang tersisa untuk orang lain.

MENJAGA BATAS:  Salah satu penyebab mengapa akhirnya banyak orang jatuh ke dalam dosa perzinahan adalah dikarenakan kegagalan kita menarik batas yang jelas SEJAK DINI. Karena interaksi pribadi yang dilakukan terus menerus berpotensi menumbuhkan ketertarikan dan ketertarikan pada akhirnya melahirkan hasrat atau nafsu untuk menyatukan diri dengannya.

MENJAGA IMPIAN:  Pernikahan harus dilindungi dari kehancuran yang bersikap ekonomi. Kadang kita terlalu berambisius dan ingin cepat kaya sehingga kita gelap mata dan mengambil keputusan bisnis yang terlalu riskan. Semua menderita akibat keputusan keliru yang kita buat. Kendati ikatan pernikahan tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan ekonomi, namun sebagai manusia kita terpengaruh olehnya. Kesulitan ekonomi yang mendera cenderung menambah frekuensi pertengkaran karena dalam keadaan terjepit, kita mengalami lebih banyak stres.

Pada akhirnya ingatlah: Kita tidak bisa menemukan seseorang yang sempurna di dunia ini, tapi kita bisa mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cinta yang sempurna. Amin.

Penulis : Ev. Nanncy Rumetor
Facebook
WhatsApp
Renungan Lainnya
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Lukas 9:23
Following Jesus Daily
Penulis : Pdt. Indra Lauw
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Matius 28:19-20
Kembali Ke Pokok Pokok Dasar
Penulis : Ps. Indra Darmawan
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 4 : 35 – 41
Keluarga Kristen di tengah goncangan dunia
Penulis : Ev. Ang Wie Hay
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 16 : 9–20
Kemenangan Kristus Memulihkan Hidup Kita, Meneguhkan Iman Kita, dan Menggerakkan Kita Menjalankan Misi-Nya
Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha