Renungan GKM

rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Mengumpulkan Harta di Surga

Pendahuluan

Saat ini, banyak umat Tuhan hidup dalam dunia yang terus mendorong kita untuk mengejar harta duniawi. Budaya materialisme semakin merasuki kehidupan kita, menjadikan keberhasilan sering kali diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Rumah besar, mobil mewah, atau saldo rekening yang tebal sering dianggap sebagai simbol kesuksesan. Sayangnya, hal ini dapat membuat kita melupakan tujuan sejati hidup sebagai murid Kristus. Umat Tuhan tidak kebal terhadap godaan ini; kita sering tergoda untuk bekerja tanpa henti demi mendapatkan lebih banyak, bahkan sampai mengorbankan waktu bersama keluarga, pelayanan, atau kehidupan rohani.

Yesus mengingatkan kita bahwa harta duniawi bersifat sementara. Namun, banyak dari kita terjebak pada pola pikir bahwa semakin banyak yang kita kumpulkan di dunia, semakin aman atau bahagia hidup kita. Akibatnya, kita sering kali menomorduakan Allah dan memprioritaskan ambisi pribadi atau kesenangan sementara. Yesus, melalui Khotbah di Bukit, memberikan peringatan yang tegas agar kita tidak menimbun harta di dunia.

Hal ini menjadi pelajaran penting untuk kita renungkan: bagaimana kita melihat harta dalam hidup kita, dan apa yang benar-benar menjadi prioritas kita? Bila kita menyelidiki Alkitab, kita akan menemukan bahwa 15 persen dari segala sesuatu yang Yesus katakan berhubungan dengan topik uang dan harta milik. Yesus memberi perhatian sedemikian besar kepada uang dan harta milik, karena ada suatu keterkaitan yang erat antara hidup rohani kita dengan bagaimana kita berpikir dan mengelola uang. Kita bisa saja mencoba memisahkan iman kita dari keuangan kita, namun Allah melihatnya sebagai hal yang tidak terpisahkan. Coba kita lihat sepintas Lukas 3. Yohanes Pembaptis sedang berkhotbah kepada orang banyak yang berkumpul untuk mendengarnya dan dibaptiskan.

Tiga kelompok yang berbeda bertanya kepada Yohanes Pembaptis tentang apa yang harus mereka lakukan untuk menghasilkan buah pertobatan. Yohanes memberi tiga jawaban:

  1. Setiap orang harus membagikan pakaian dan
    makanan kepada orang-orang miskin (ayat 11)
  2. Para petugas pajak tidak boleh memungut uang
    ekstra (ayat 13)
  3. Para tentara harus puas dengan gaji mereka dan
    tidak boleh memeras (ayat 14)

 

Setiap jawaban berhubungan dengan uang dan harta milik. Disini menjadi jelas bahwa pendekatan kita kepada uang dan harta milik tidak hanya penting, tetapi sentral bagi kehidupan rohani kita. Ini menempati skala prioritas yang tinggi bagi Allah sehingga Yohanes Pembaptis tidak bisa bicara tentang kerohanian tanpa berbicara tentang bagaimana mengelola uang dan harta milik. Dari bagian firman Tuhan yang kita baca, kita dapat belajar 3P :

I. PERINTAH. Ayat 6:19

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Yesus memperingatkan agar kita tidak menimbun harta di bumi karena sifatnya sementara.

Harta dunia seperti pakaian, perhiasan, atau uang mudah rusak, kehilangan nilai, atau dicuri. Ketika hati kita terikat pada harta ini, kita kehilangan fokus pada tujuan kekal yang Allah tetapkan.

Pada zaman Yesus, kekayaan sering diukur dari kepemilikan kain mahal, logam mulia, atau hasil panen. Namun, kain dapat dirusak oleh ngengat, logam berkarat karena udara lembap, dan hasil panen dicuri oleh pencuri. Di tengah budaya Yahudi, kekayaan dianggap tanda berkat, sehingga banyak yang tergoda untuk menumpuknya demi status sosial.

Larangan untuk terus menimbun harta di bumi menyiratkan bahwa tindakan tersebut sudah menjadi kebiasaan umum pada waktu itu. Yesus memanggil para pendengar untuk mengubah pola pikir mereka. Perintah ”jangan mengumpulkan” dalam Matius 6:19 menggarisbawahi pentingnya untuk menghindari pengumpulan harta duniawi, yang tidak tahan lama dan rentan terhadap kerusakan serta pencurian, dan mengarahkan perhatian pada hal-hal yang memiliki nilai kekal.

Kata "ngengat" dan "karat" dalam Matius 6:19 menggambarkan sifat fana dari harta duniawi. Kekayaan selalu menghadapi ancaman dari luar, membuatnya tidak dapat memberikan keamanan sejati.

Sebaliknya, Yesus mengarahkan murid-murid-Nya untuk mengumpulkan harta di surga—perbuatan baik, ketaatan, dan iman—yang tidak terancam kehancuran.

"Harta di sorga" bukan tentang menimbun kekayaan materi di kehidupan mendatang, melainkan tentang hidup dalam ketaatan dan kasih kepada Allah di bumi ini, yang berdampak kekal di sorga. Dengan fokus kepada harta sorgawi, kita diajak untuk melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi dan hidup dalam kebijaksanaan serta tujuan yang memuliakan Tuhan. Mari kita refleksikan: apakah hidup kita menunjukkan cinta kepada Allah atau kepada mamon? Jangan terlambat untuk mengarahkan hati Anda kepada Tuhan!

Renungkan, apa yang menjadi fokus utama hidup Anda: menumpuk kekayaan atau menginvestasikan hidup Anda dalam hal-hal kekal? Setelah memahami peringatan Yesus untuk tidak mengumpulkan harta di dunia, kita perlu bertanya: jika harta duniawi bersifat sementara, lalu apa yang seharusnya menjadi fokus hidup kita? Yesus menjawabnya dengan mengarahkan perhatian kita pada pengumpulan harta di surga. Mari kita lihat bagaimana hal ini menjadi panggilan bagi setiap murid Kristus.

II. PANGGILAN. Ayat 20

”Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Apa yang kita hargai di dalam hidup akan memengaruhi pikiran, hati, dan tindakan kita. Jika kita menghargai hal-hal duniawi, hati kita akan cenderung sibuk mengejar kekayaan yang fana. Namun, jika fokus kita pada harta surgawi, hidup kita akan diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan memenuhi tujuan-Nya. Harta surgawi mencakup kasih, kebaikan, iman, pengabdian, dan perbuatan baik yang menyentuh kehidupan orang lain. Dalam budaya Yahudi, hati dianggap sebagai pusat
kehendak, kasih, dan moralitas.

Apa yang seseorang hargai di hati akan menentukan keinginannya. Jika hati tertarik pada kekayaan duniawi, maka fokus hidupnya akan jauh dari rencana Allah. Dalam ayat ini, Yesus juga menggunakan mata sebagai ilustrasi. Mata disebut sebagai "pelita tubuh," yang menggambarkan bagaimana cara kita memandang dunia. Mata yang sehat melambangkan pandangan yang jelas dan berorientasi kepada Tuhan. Sebaliknya, mata yang jahat menggambarkan kehidupan yang tamak, egois, dan tertarik pada hal-hal yang fana. Pandangan kita terhadap dunia menentukan apakah hidup kita dipenuhi terang dari Allah atau tertutup oleh kegelapan dosa.

Kata "Kumpulkanlah” adalah perintah yang aktif. Bentuk ini mengindikasikan tindakan yang terus menerus atau kebiasaan yang harus dilakukan. Yesus memerintahkan para pendengar untuk memusatkan usaha mereka pada pengumpulan harta di surga secara terus menerus, bukan sekadar sekali-sekali. Menunjukkan bahwa tindakan mengumpulkan harta di surga harus menjadi kebiasaan atau pola hidup yang terus-menerus. Perintah ini bersifat proaktif dan berlangsung sepanjang hidup.

Firman Tuhan ini mendorong kita untuk mengarahkan hati kita pada hal-hal yang memiliki nilai kekal. Tindakan "mengumpulkan harta di surga" dapat diartikan sebagai melayani Allah, menunjukkan kasih kepada sesama, dan hidup sesuai kehendak-Nya. Kata ini menunjukkan bahwa ini bukan sekadar satu tindakan tetapi pola hidup yang berkelanjutan. Mengingatkan kita bahwa harta duniawi bukan untuk dikuasai, tetapi digunakan untuk kemuliaan Allah.

Saya mengajak kita untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal duniawi yang sementara kepada hal-hal kekal yang bernilai.. Dengan demikian, kita sedang menumpuk harta di surga yang memiliki nilai kekal. Setelah memahami pentingnya mengalihkan fokus kita dari harta duniawi kepada harta surgawi, Yesus memberikan peringatan yang lebih mendalam: Siapa atau apa yang sebenarnya menjadi tuan dalam hidup kita? Inilah yang membawa kita pada pertanyaan kritis berikutnya, yaitu tentang siapa yang kita layani — Allah atau Mamon. Ini adalah suatu Pilihan untuk kita.

III. PILIHAN. Ayat 24

”Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Yesus dengan jelas menyatakan bahwa manusia tidak bisa melayani dua tuan sekaligus. Pilihan antara Allah dan Mamon mencerminkan orientasi hati manusia: apakah kita lebih mencintai Sang Pencipta atau ciptaan-Nya? Mamon, yang melambangkan kekayaan dan harta duniawi, sering kali menjadi penghalang utama dalam hubungan seseorang dengan Allah. Dalam budaya Romawi, seorang hamba adalah milik penuh dari tuannya. Hamba tidak punya kebebasan untuk membagi kesetiaan kepada lebih dari satu tuan.

Ketika Yesus berbicara tentang "membenci" satu dan "mengasihi" yang lain, ini bukan tentang emosi, tetapi tentang loyalitas total. Hamba yang berusaha menyenangkan dua tuan akan segera kehilangan fokus dan dianggap tidak layak Mamon, dalam konteks Yahudi, tidak hanya melambangkan uang tetapi juga representasi spiritual dari keserakahan dan ketergantungan pada kekayaan duniawi. Bahkan di masa itu, godaan untuk menempatkan kekayaan sebagai prioritas utama sangatlah besar, apalagi dalam masyarakat yang menganggap kekayaan sebagai tanda berkat ilahi. Kata "Mengabdi/melayani." Kata ini menunjukkan
tindakan yang bersifat terus-menerus atau kebiasaan. Hal ini menggambarkan pelayanan penuh kepada tuan, yang mengimplikasikan pengabdian total tanpa berbagi kesetiaan.

Kata ini menggambarkan tindakan pelayanan total yang terus-menerus, melibatkan hati, pikiran, dan tubuh seseorang. Ini adalah pengabdian penuh waktu, bukan pelayanan sesekali Yesus menggunakan kata-kata tegas: "Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan." Kata kerja "mengabdi" menggambarkan sikap hamba yang sepenuhnya tunduk kepada tuannya. Tidak ada ruang untuk pembagian loyalitas. Kata “membenci” dan “mengasihi” adalah idiom untuk menunjukkan prioritas.

Ketika seseorang mencintai kekayaan lebih dari Allah, ia akan memprioritaskan ambisi duniawi, bahkan jika itu berarti mengorbankan kehendak Tuhan. Sebaliknya, ketika seseorang mengutamakan Allah, kekayaan hanya menjadi alat untuk memuliakan-Nya, bukan tujuan utama hidup.

Yesus tidak mengatakan bahwa kekayaan itu salah. Namun, jika kekayaan menjadi pusat hidup kita, itu akan menggantikan posisi Allah sebagai Tuhan. Mamon sering kali menjanjikan keamanan, kepuasan, dan kebahagiaan yang palsu. Sebaliknya, melayani Allah memberikan kedamaian sejati yang tidak bisa dibeli dengan uang. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menyerahkan seluruh aspek hidup kita, termasuk harta, kepada Tuhan. Kekayaan adalah alat yang bisa digunakan untuk memuliakan Allah jika dikelola dengan bijaksana.

Yesus menekankan bahwa tidak ada ruang untuk loyalitas yang terbagi dalam hal pelayanan kepada Allah. Pelayanan kepada Mamon melibatkan pengabdian kepada hal-hal duniawi seperti kekayaan dan kedudukan, yang sering kali bertentangan dengan kehendak Allah. Orang Kristen dipanggil untuk memilih Allah sebagai tuan yang sejati, memberikan pengabdian
total kepada-Nya.

Matius 6:24 secara jelas menunjukkan ketidakmungkinan melayani dua tuan. Bentuk present menyoroti ketidakmungkinan yang terus-menerus, sedangkan future menegaskan konflik yang pasti muncul. Ayat ini merupakan panggilan untuk memilih dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah, karena Dia adalah satu-satunya Tuan yang layak

Yesus mengundang kita sebagai murid Kristus untuk mengambil keputusan tegas: kepada siapa kita akan melayani? Mari kita memeriksa diri, apakah hidup kita lebih diarahkan untuk mengejar kekayaan atau untuk menggenapi rencana Allah? Jika Allah menjadi Tuhan dalam hidup kita, maka segala sesuatu — termasuk harta kita — akan diarahkan untuk memuliakan-Nya. Jangan biarkan kekayaan duniawi mengalihkan hati kita dari panggilan kekal sebagai murid Kristus.

Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha
Facebook
WhatsApp
Renungan Lainnya
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Lukas 9:23
Following Jesus Daily
Penulis : Pdt. Indra Lauw
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Matius 28:19-20
Kembali Ke Pokok Pokok Dasar
Penulis : Ps. Indra Darmawan
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 4 : 35 – 41
Keluarga Kristen di tengah goncangan dunia
Penulis : Ev. Ang Wie Hay
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 16 : 9–20
Kemenangan Kristus Memulihkan Hidup Kita, Meneguhkan Iman Kita, dan Menggerakkan Kita Menjalankan Misi-Nya
Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha