
Pendahuluan
Sejak kecil dan sampai hari ini kita memberikan persembahan di dalam setiap peribadatan di gereja. Di gereja kita ada beberapa bentuk persembahan: Persembahan mingguan (pada Kebaktian umum), persembahan bulanan (sampul rayon), persembahan misi, persembahan perpuluhan, persembahan syukur tahunan dan persembahan khusus ( Natal, Paskah, GKM peduli, dsb.).
Pertanyaannya, apakah selama ini kita tahu makna sebenarnya dari memberi persembahan? Apa dasar iman kita memberi persembahan? Bagaimana seharusnya sikap kita dalam memberi persembahan? Pada waktu persembahan dijalankan apa yang ada dalam pikiran dan hati saudara? “Persembahan lagi, persembahan lagi..” “SemogaTuhan memberkati saya berlipat kali ganda” atau “Terima kasih Tuhan untuk segal berkat-Mu..”.
Mari kita belajar dari sudut pandang iman Kristen tentang persemabahan:
1. Persembahan Sebagai Tindakan Iman Jemaat
Saudara persembahan yang kita berikan dalam ibadah tidak sama dengan sumbangan, pajak atau iuran dalam sebuah organisasi. Persembahan yang kita berikan itu adalah kudus. Mengapa? Karena Persembahan yang kita berikan dalam ibadah ditujukan kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan yang telah memberikan kehidupan dan berkat-Nya kepada kita. Persembahan yang kita berikan merupakan syukur atas segala karya kasih dan penyelamatan Tuhan kepada kita. Dan persembahan yang kita berikan juga sebagai tanda keterlibatan kita dalam kehidupan gereja, tubuh Kristus di dunia.
2. Dasar Iman Memberi Persembahan
Umat Israel memberikan persembahan sebagai pengakuan terhadap Allah sebagai sumber kehidupan dan sumber segala sesuatu yang ada. Dan sebagai pengucapan syukur kepada Allah Sang Penyelamat dan Sang Pemelihara, karena penyelamatan-Nya dan pemeliharaan-Nya terhadap umat-Nya. Di dalam Perjanjian Baru makna persembahan menjadi lebih dalam. Persembahan dilihat sebagai pengucapan syukur atas karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus. Dan kita diminta untuk mempersembahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada-Nya. Dasar iman ketika kita memberi persembahan adalahKasih kepada Tuhan yang telah terlebih dahulu mengasihi kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. (1 Yohanes 4:9-11). Dan kesadaran bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang diberikan dan dipercayakan kepada kita untuk kita pergunakan dalam hidup. Untuk mengembangkan kerajaan Allah di muka bumi. (1 Tawarikh 29:12-14). Memberi persembahan kepada Tuhan berarti kita mengakui bahwa Tuhan adalah sumber berkat dan pemberi berkat.
Sikap kita dalam memberi persembahan seharusnya dengan kerelaan hati, penuh ungkapan syukur dan sukacita. Allah tidak menginginkan kita memberi persembahan dengan terpaksa. Persembahan kita dihadapan Tuhan tidak akan ada artinya bila terpaksa. Dalam memberi persembahan jangan memberi sebanyak yang kita mau berikan tetapi berikanlah kepada Tuhan dengan rela seberapa yang mampu kita berikan. Persembahan bukanlah perintah oleh karena itu jangan kita merasa terbebani. Berikanlah persembahan dengan sikap yang benar yaitu sebagai jawaban atas cinta kasih Tuhan yang besar dalam kehidupan kita. Dan dalam memberi pesembahan kita harus ingat bahwa persembahan kita bukan dibatasi dengan uang tetapi kehidupan kita yang berkenan kepada-Nya merupakan persembahan yang hidup dan yang berkenan kepada Allah.
3. Sikap Yang Keliru Dalam Memberi Persembahan
Kalau ada sikap yang benar tentu ada sikap yang keliru dalam memberi persembahan. Yang benar kita teladani dan lakukan yang keliru harus kita hindari. Alkitab memberikan contoh sikap yang keliru dalam memberi persembahan kepada Tuhan melalui kehidupan umat Israel, Ananias dan Safira serta pemimpin agama Yahudi dalam menjalankan ritual keagamaan. Dalam contoh-contoh tersebut di atas sikap keliru yang harus kita hindari adalah sikap suap. Seolah olah dengan persembahan yang kita berikan Allah berkenan dan mau mengampuni dosa kita. Sikap keliru lainnya adalah pamer. Memberi persembahan supaya dilihat orang.
PENUTUP
Kiranya kita semua memberikan persembahan kepada Tuhan dengan rela, sukacita dan syukur. Karena apa yang kita punya adalah dari Tuhan dan kita memberi karena Tuhan telah memberi kepada kita. Amin.
Pertanyaan: