
Tahun baru menjadi momentum bagi banyak orang untuk membuat resolusi dan berbagai rencana sepanjang tahun. Ada yang berencana melanjutkan studi, menikah, membuka usaha, membeli aset, atau melakukan perjalanan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa perencanaan itu tidak diperlukan karena dianggap sebagai kurangnya iman. Beberapa orang lebih suka spontanitas—"tiba masa, tiba akal".
Namun, sebenarnya perencanaan adalah bentuk penghargaan terhadap waktu dan kehidupan yang Tuhan berikan. Alkitab sendiri menceritakan bagaimana seorang raja yang hendak berperang duduk terlebih dahulu untuk merencanakan strategi. Dia mengukur kekuatan pasukannya dan menyelidiki kekuatan musuhnya. Demikian pula dengan seseorang yang hendak membangun, ia harus menyiapkan cetak biru dan menghitung anggaran yang diperlukan.
Yakobus mengingatkan kita untuk tidak melupakan Tuhan dalam membuat perencanaan. Mengapa demikian?
1. Karena Kita Tidak Tahu Hari Esok (Yakobus 4:14a)
Dalam ayat 13, Yakobus menggambarkan seseorang yang berkata:
"Hari ini atau besok kami akan pergi ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun, berdagang, dan mendapat untung."
Namun, Yakobus mengecam sikap orang ini. Bukan karena dia membuat rencana atau ingin mencari keuntungan, tetapi karena tidak ada Tuhan dalam rencananya. Semua yang dia katakan berpusat pada dirinya sendiri: "kami akan berangkat," "kami akan tinggal setahun," "kami akan berdagang," dan "kami akan mendapat untung."
Orang ini sangat percaya diri pada kemampuannya sendiri, tanpa berdoa, tanpa meminta petunjuk Tuhan. Ia merasa bahwa pengalaman, kekayaan, kepintaran, dan koneksi sudah cukup untuk menjamin kesuksesan.
Namun, ayat 14 langsung mengingatkan:
"Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok."
Sementara ayat 13 penuh kepastian (pasti berangkat, pasti tinggal setahun, pasti dapat untung), ayat 14 justru menegaskan bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi bahkan besok sekalipun.
Semua ini bisa terjadi, karena kita tidak memegang kendali atas hidup kita—Tuhanlah yang memegang kendali.
2. Hidup Kita Itu Singkat dan Fana
Yakobus menggambarkan hidup kita seperti uap—sebentar terlihat, lalu lenyap. Ini menunjukkan betapa singkat dan rentannya kehidupan manusia.
Firman Tuhan juga mengingatkan kita:
Amsal 27:1 – "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari itu."
Banyak hal di dunia ini tidak bisa diprediksi. Tahun 2020, misalnya, semua perusahaan, sekolah, dan gereja telah membuat rencana tahunan mereka, tetapi pandemi meluluhlantakkan semuanya.
Ayub 7:7 berkata: "Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas."
Sementara Mazmur 39:5 menambahkan:
"Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku."
Karena hidup kita fana dan terbatas, jangan sombong! Jangan merasa bahwa semua bisa berjalan sesuai kehendak kita sendiri.
3. Kita Harus Melibatkan Tuhan dalam Perencanaan
Karena hidup kita singkat dan kita tidak tahu hari esok, maka kita harus selalu melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita.
Yakobus 4:15 menasihatkan: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
Ungkapan "Jika Tuhan menghendakinya" bukanlah tanda pesimisme, melainkan sikap hati yang tunduk kepada kedaulatan Tuhan. Ini adalah ekspresi iman bahwa Tuhan yang berdaulat atas hidup kita, bukan kita sendiri.
Kesimpulan
Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan! Libatkan Tuhan dalam segala keputusan, baik yang besar maupun yang kecil. Kita rindu agar kehidupan kita sepanjang tahun ini dipimpin dan diberkati Tuhan.
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:5-6)