
Pendahuluan: Siapa Kita Sebenarnya?
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kita sering kali menyebut diri kita “Kristen.” Namun, apa artinya menjadi Kristen? Apakah itu hanya sekadar identitas agama yang tertulis di KTP atau status keluarga yang diwariskan? Tidak. Menjadi Kristen berarti menjadi pengikut Kristus, murid Kristus, seorang yang hidupnya diarahkan dan dibentuk oleh pengajaran serta teladan Sang Guru Agung, Yesus Kristus.
Yesus tidak pernah memanggil murid untuk sekadar tahu, tetapi untuk mengikuti. Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Itu berarti kita berjalan di belakang-Nya, meneladani langkah-Nya, dan menanggapi setiap ajaran-Nya dengan tindakan nyata dalam hidup sehari-hari.
Sebagai murid Kristus, kita dipanggil menjadi garam dan terang dunia—menjadi berkat dan pembawa pengaruh baik di mana pun kita ditempatkan: di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di tengah keluarga, bahkan dalam dunia yang penuh tantangan ini.
Hidup kita adalah kelas dari sekolah kehidupan—sekolah di mana kita tidak hanya belajar teori iman, tetapi juga mempraktekkan ajaran Kristus dalam segala aspek kehidupan kita.
Jika demikian, pelajaran apa yang harus kita pahami dan praktekkan sebagai pengikut atau murid Kristus?
Lukas 9:23 berkata,
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.”
Poin 1: Menyangkal Diri
Saudara,
Yesus berkata, “Ia harus menyangkal dirinya.” Ini bukan berbicara tentang penyiksaan diri atau praktik askese seperti yang dilakukan di Abad Pertengahan. Menyangkal diri adalah menundukkan kehendak diri kepada kehendak Allah.
Sejak manusia pertama, Adam dan Hawa, memilih mengikuti keinginannya sendiri (Kejadian 3:6), dosa mulai menguasai hati manusia. Rasul Paulus menyatakan pergumulan ini dalam Roma 7:19, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan.”
Kita hidup dalam dunia yang terus mendorong kita untuk “ikuti kata hati,” “lakukan apa yang kamu mau,” dan “hidup untuk dirimu sendiri.” Tapi Firman Tuhan mengajar sebaliknya: hidup bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk Tuhan.
Galatia 5:17 berkata, “Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh.” Maka satu-satunya cara untuk menang adalah dengan hidup oleh Roh, agar kita berbuah dalam kebenaran (Filipi 1:11) dan tidak menghasilkan buah maut (Roma 6:21).
Sepanjang sejarah Alkitab, kita melihat orang-orang yang hidup dalam penyangkalan diri:
Bagaimana contoh nyata menyangkal diri dalam hidup sekarang?
Menyangkal diri adalah mengalihkan fokus hidup dari “apa maunya aku” menjadi “apa maunya Tuhan.”
Itu hanya mungkin dilakukan bila kita punya relasi yang mendalam dengan Tuhan dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya.
Poin 2: Memikul Salib
Yesus juga berkata, “Ia harus memikul salibnya setiap hari.”
Di zaman Yesus, salib adalah lambang penderitaan, hukuman, dan kehinaan. Tapi jangan salah paham: salib bukanlah konsekuensi dari kesalahan kita sendiri.
Seorang siswa gagal karena malas bukanlah memikul salib. Itu akibat. Seorang pekerja dipecat karena tidak jujur bukan salib. Itu buah perbuatannya.
Pikul salib adalah penderitaan yang kita alami karena kita taat pada Tuhan.
Seperti Paulus yang dianiaya karena memberitakan Injil. Seperti para martir yang kehilangan nyawa demi Kristus.
Namun, ini bukan berarti kita harus menderita demi menderita. Ada yang merasa jadi orang Kristen berarti harus selalu susah. Bahkan lebih parah, ada yang jadi “salib hidup” bagi sesamanya—bukan saling menolong, tapi justru menambah beban.
Firman Tuhan berkata:
“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku… sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:29-30)
“Allah tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.” (1 Korintus 10:13)
Maka, pikul salib harus berakar pada pengenalan dan hubungan yang benar dengan Tuhan.
Jangan sampai kita berpikir kita sedang memikul salib, padahal kita sedang menjalankan kehendak diri sendiri dalam balutan religiusitas (Matius 7:21-23).
Yesus sendiri memberikan teladan:
Sangkal diri dan pikul salib bukan dua hal yang terpisah.
Seseorang yang menyangkal diri akan bersedia memikul salib.
Dan yang benar-benar memikul salib, adalah orang yang telah belajar menyangkal diri.
Penutup: Latihan Seumur Hidup
Saudaraku,
Menjadi murid Kristus bukan tentang hidup “SKS”—Sistem Kebut Semalam. Ini adalah proses setiap hari. Kita mungkin gagal, kita mungkin jatuh. Tapi kasih Tuhan tidak berhenti. Ia terus menopang kita agar kita sanggup menyangkal diri dan memikul salib hari demi hari.
Mari kita kembali ke “sekolah kehidupan” di dalam Kristus.
Mari kita belajar setiap hari, dalam setiap situasi, untuk taat kepada Tuhan—bukan hanya tahu Firman-Nya, tapi melakukannya.
Amin.