Renungan GKM

rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Extravagant Love

Perikop Markus 14:3–9 mengisahkan tentang seorang perempuan yang melakukan tindakan luar biasa atas kasihnya kepada Yesus. Dikisahkan ketika Yesus berada di Betania, di tengah jamuan makan di rumah Simon, seorang perempuan datang membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Tanpa bicara apa-apa, ia memecahkan buli-buli itu dan mencurahkan seluruh minyaknya ke atas kepala Yesus.

Tindakan ini langsung memancing kritik dari Yudas Iskariot (Yoh. 12: 1-8), yang mengecam tindakan itu sebagai pemborosan. Minyak tersebut diperkirakan senilai 300 dinar—kurang lebih setara dengan gaji satu tahun seorang pekerja biasa. Bila kita membayangkannya dalam konteks hari ini, nilainya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ini bukan minyak biasa, melainkan narwastu murni—minyak mahal dari tanaman eksotik yang biasa digunakan hanya untuk peristiwa penting, seperti penguburan atau penobatan raja. Bahkan wadahnya pun terbuat dari batu pualam, bukan keramik biasa. Maka ketika perempuan ini memecahkan buli-buli pualam itu, ia sebenarnya sedang menghancurkan simbol kekayaan dan status sosial yang berharga.

Namun Yesus tidak menyebut tindakan itu pemborosan. Ia justru menyebutnya sebagai “perbuatan yang baik” dan menegaskan bahwa tindakan perempuan ini akan dikenang sepanjang masa. Mengapa? Karena kasih yang melandasinya. Perempuan ini tidak sedang mencari perhatian publik. Ia tidak sedang berusaha menciptakan kesan rohani. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Yesus—total, tanpa sisa, tanpa kalkulasi untung-rugi.

Kontras tajam terlihat antara sikap perempuan ini dan Yudas. Bagi Yudas, minyak itu terlalu berharga untuk dihabiskan bagi Yesus. Tapi ironisnya tak lama setelah itu, jika kita membaca perikop setelahnya, diceritakan bahwa Yudas justru menjual Yesus hanya dengan 30 keping perak. Di mata perempuan itu, Yesus layak menerima persembahan termahal. Di mata Yudas, Yesus tidak lebih berharga dari nilai transaksi.

Kisah ini menjadi jendela bagi kita untuk memahami kasih Kristus yang juga extravagant—kasih yang tampaknya “berlebihan” jika dilihat dari logika manusia. Di atas kayu salib, Yesus memberikan bukan hanya sebagian hidup-Nya, tetapi seluruhnya. Ia mencurahkan darah-Nya demi menebus kita yang tidak layak. Salib adalah bukti paling gamblang dari kasih Allah yang tidak menahan apa pun. Bagi dunia, mungkin ini tampak sebagai tindakan yang tidak efisien, bahkan sia-sia. Tapi bagi kita yang diselamatkan, salib adalah kekuatan Allah dan pusat pengharapan kita.

Sama seperti darah anak domba yang menjadi tanda keselamatan dalam peristiwa Paskah di Mesir (darah di pintu “menyelamatkan” mereka dari tulah ke-10; kematian anak sulung), demikian pula darah Kristus menjadi tanda bagi keselamatan kita. Allah tidak menyelamatkan karena melihat kelayakan kita, melainkan karena Ia melihat Kristus di dalam kita. Maka tanpa Kristus, segala pekerjaan, pelayanan, dan persembahan kita menjadi sia-sia. Tapi di dalam kasih kepada Kristus, bahkan persembahan sekecil dua peser pun bernilai kekal (Markus 12: 41-44).

Dalam minggu pra-Paskah ini, kita diundang untuk kembali bertanya: di manakah posisi Kristus dalam hidup kita? Apakah kita masih mengasihi Dia dengan kasih yang utuh, ataukah kita mulai menghitung-hitung dan membatasi pengorbanan? Mari kita belajar dari perempuan itu—bahwa bagi Yesus yang telah memberikan segalanya bagi kita, tidak ada pemberian yang terlalu besar.

Seperti perempuan itu memecahkan buli-buli pualamnya, kiranya kita pun rela memecahkan hidup kita di hadapan Tuhan—karena kasih yang melimpah. Dunia mungkin menyebutnya boros, tapi di mata Tuhan, tak ada kasih yang sia-sia. Sebab Dia pun tak ragu ‘memboroskan’ kasih-Nya bagi kita—dengan menyerahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib.

 

Pertanyaan refleksi:

  1. Jika Anda berada dalam peristiwa di Betania, siapa yang lebih mencerminkan sikap hati Anda: perempuan yang mengasihi, atau Yudas yang menghitung?
  2. Apakah selama ini Anda memberikan kepada Tuhan dari kelimpahan kasih, atau sekadar kewajiban?
  3. Dalam bentuk apa Anda bisa menunjukkan kasih yang nyata dan total kepada Kristus di minggu pra-Paskah ini?
Penulis : Ev. - Tiatira Teresa
Facebook
WhatsApp
Renungan Lainnya
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Lukas 9:23
Following Jesus Daily
Penulis : Pdt. Indra Lauw
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Matius 28:19-20
Kembali Ke Pokok Pokok Dasar
Penulis : Ps. Indra Darmawan
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 4 : 35 – 41
Keluarga Kristen di tengah goncangan dunia
Penulis : Ev. Ang Wie Hay
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 16 : 9–20
Kemenangan Kristus Memulihkan Hidup Kita, Meneguhkan Iman Kita, dan Menggerakkan Kita Menjalankan Misi-Nya
Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha