
Ayat hafalan: Amsal 5:18 (TB2):
18 Diberkatilah kiranya sumber airmu, bersukacitalah dengan istri masa mudamu.
Kidung Agung ada di dalam kanon Perjanjian Lama karena tradisi Yahudi yang meyakini Salomo adalah penulis Kidung Agung berdasarkan pasal 1 ayat 1, dituliskan antara tahun 970-930 BC / SM.
Penafsiran Kidung Agung untuk diterapkan dalam kehidupan umat Tuhan, ada beberapa versi. Tradisi Yahudi memahami penafsiran alegoris TUHAN mencintai bangsa Israel. Para teolog abad pertengahan memahami penafsiran alegoris TUHAN mencintai gereja. Penafsiran modern menyingkap teks berbicara menurut konteks literal yang dipahami sebagai puji-pujian berbalasan kekasih pria dan kekasih wanita dengan tetap menghargai cinta yang kudus dari TUHAN yang dipeliharakan hingga maut.
Kidung Agung 1:9-11 adalah bagian awal puisi yang diungkapkan oleh kekasih pria kepada kekasih wanita.
Kekasih pria menggambarkan kekasih wanitanya seperti kuda betina pada kereta-kereta Firaun (1:9). Kalimat ini hendak menggambarkan bahwa kekasihku adalah yang sangat berharga melebihi segala hal, karena adalah anugerah pemberian TUHAN.
Pemberian kalung perhiasan emas, manik-manik perak adalah bentuk perhatian cinta kekasih pria kepada kekasih wanita (1:10-11). Bentuk perhatian yang terbaik dari suami kepada istri juga harus diimbangi dengan hikmat agar tidak jatuh pada jerat hutang.
Kidung Agung 1:12-14 adalah balasan pujian oleh kekasih wanita kepada kekasih pria.
Kekasih wanita menggambarkan kekasih pria seperti aroma narwastu (1:12-13), yang dibungkus dengan kantong kain yang diletakkan di dada, menggambarkan kekasih wanita sangat menghargai kekasih pria sebagai yang memberikan aroma indah dan sangat dekat di hati.
Kekasih wanita menggambarkan kekasih pria seperti bunga pacar (1:14), yang memberi keindahan dalam hidup. Di kebun-kebun anggur En-Gedi, suatu wilayah dengan pemandangan yang sangat indah. Kehadiran kekasih pria diharapkan meberikan keindahan yang luar biasa dalam hidup kekasih wanita.
Kerinduan sepasang kekasih, ketertarikan secara fisik, cinta eros pria dan wanita yang semakin meningkat, tetap melihat kekudusan Tuhan, dan tetap menjaga kekudusan cinta dan status sepasang kekasih yang belum tiba pernikahan. Jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya! (Kidung Agung 2:7, 8:4).
Kidung Agung adalah puisi cinta yang berstruktur kiasme yang membawa pada suasana puncak di HARI PERNIKAHAN.
C’. Kerinduan kekasih wanita mencari kekasih pria (5:2 – 7:10)
B’. Undangan kekasih wanita kepada kekasih pria (7:12 – 8:4)
A’ Kata-kata penutup saling mencinta dan kerinduan (8:5 – 14)
HARI PERNIKAHAN.
Penyebutan kekasih semakin intim mencapai puncak cinta dengan dengan sebutan dinda, pengantinku. Pernikahan adalah penyatuan pria dan wanita, dari puji-pujian sehingga keduanya menjadi satu daging (Kejadian 2:24 dan Efesus 5:31). Penyatuan persetubuhan suami istri adalah bagian cinta yang kudus dalam ikatan perkawinan kudus, dalam anugerah Tuhan.
Hubungan persetubuhan di luar perkawinan adalah hal yang tak kudus yang tidak menghormati kekudusan Tuhan.
Kidung Agung 1:15-17 , puji-pujian dan cinta kudus terus menerus sampai maut.
Puji-pujian yang saling berbalasan kekasih pria kepada kekasih wanita, dilakukan terus menerus. Kegairahan cinta suami istri gigih seperti dunia orang mati dan terus menyalakan cinta yang tak pernah padam seperti terangnya nyala api TUHAN yang tak pernah padam! (Kidung Agung 8:6).
Kepada setiap pasangan suami istri diingatkan agar terus setia mengasihi dan mencintai pasangannya dari sejak muda (Amsal 5:18), hingga maut memisahkan (Kidung Agung 8:6).
Cinta yang kudus adalah dari TUHAN. Anak-anak TUHAN seharusnya selalu menerapkan nilai-nilai Yesus dalam kehidupan setiap hari. Akan tetapi dunia sedang menarik gereja dan anak-anak TUHAN untuk tidak menerapkan nilai-nilai Tuhan Yesus, sebaliknya menjadi sama dengan nilai dunia. Roma 12:1 Rasul Paulus mengingatkan kepada setiap pengikut Kristus, agar tidak menjadi sama dengan dunia. Tarikan untuk menjadi sama dengan nilai dunia dan meninggalkan nilai-nilai Yesus terhadap ikatan pernikahan kudus terjadi dalam banyak aspek: mulai dari kekudusan pra nikah, perencanaan pernikahan, menghamonikan suami istri dalam konflik komunikasi, hingga komitmen kesetiaan.
Cinta yang Kudus sedang ditarik untuk menjadi sama dengan dunia :
| Mengikut nilai-nilai Yesus | Menjadi sama dengan nilai dunia. |
| > 1, Menjaga kekudusan Pra-nikah | > 1, Menganggap normal seks Pra-nikah |
| > 2, Pemberkatan nikah di Rumah Tuhan. Ibadah pemberkatan pernikahan hendaknya menjadi kerinduan agar dapat terselenggara di rumah Tuhan seperti pemazmur, “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN” (Mazmur 122:1). | > 2, Pemberkatan nikah di luar Rumah Tuhan. Demi keindahan pemandangan, demi kepraktisan. Argumentasi bahwa Tuhan memberi berkat di mana saja. Pada pemilihan tempat nikah di luar gereja, kegembiraan – rasa sukacita diberkati di rumah Tuhan tidak dapat diceritakan / diwariskan ke generasi berikut: |
| > 3, Menjaga kekudusan ikatan Pernikahan suami istri dalam segala hal, mulai dari pernyataan cinta kudus dan persetubuhan kudus. | > 3, Menormalkan berbagai ungkapan intim kepada bukan suami & istri, mulai dari gaya sapaan, kontak fisik bahkan hubungan persetubuhan. |
| > 4. Memelihara cinta kudus sampai maut. Katakan cinta kepada suami / isteri sampai maut. | > 4. Cerai dan nikah lagi sebagai pilihan yang sudah biasa. |
Refleksi: Untuk para pemuda pemudi, maupun untuk semua pasangan suami istri:
Apa komitmen anda dalam menjaga dan memelihara cinta yang kudus?
Rencana tindakan nyata apa yang harus anda buat untuk menjaga dan memelihara cinta yang kudus?
Catatan bagi:
Para pemuda pemudi yang sudah memiliki rasa dekat, didorong untuk mengikuti Pre Marital Course.
Para suami isteri didorong untuk mengikuti Retreat Suami Istri, Marriage Enrichment.