Renungan GKM

rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Apakah Persembahanmu?

Pendahuluan

“Tidak ada makan siang yang gratis” merupakan prinsip yang dipegang oleh dunia yang berdosa ini. Tidak ada bantuan yang cuma-cuma, semuanya selalu ada maksud dan tujuan yang tersembunyi layaknya udang dibalik batu. Sering kali prinsip dunia ini masuk dalam kehidupan anak-anak Tuhan, termasuk di dalam memberikan persembahan.

Saudara sekalian ada banyak beragam motivasi anak-anak Tuhan dalam memberi persembahan. Ada anak Tuhan yang berpikir dengan memberikan persembahan maka kita akan diberkati berkali-kali lipat banyaknya. Sebagian mungkin berpikir dengan memberikan persembahan maka dosa-dosa kita akan ditutupi. Atau beberapa lain berpikir bahwa dengan memberikan persembahan dan sengaja dilihat orang lain, maka saya akan dikenal baik oleh orang-orang yang melihat. Dari semua jenis motivasi yang saya sampaikan tadi, maka semuanya berbicara tentang diri sendiri, apa benefitnya bagi saya?

 

Kata Sambung

Jadi sebenarnya apa sih yang menjadi motivasi seharusnya bagi orang Kristen untuk memberikan persembahan kepada Tuhan?

 

Amanat Khotbah

            Saudara sekalian, kita memberikan persembahan kepada Allah sebagai ekspresi kasih kita kepada-Nya, karena Allah terlebih dahulu mempersembahkan Anak-Nya yang Tunggal bagi penebusan dosa kita.

 

Eksposisi

            Abraham adalah salah satu tokoh yang digambarkan sebagai orang yang terus mengalami ujian dan proses oleh Allah itu sendiri. Berbagai ujian yang diberikan Allah kepadanya, ada yang gagal ataupun berhasil. Tetapi ujian yang paling berat bagi Abraham adalah di Pasal 22 yang barusan kita baca bersama. Saudara sekalian ujian yang diberikan Allah kepada Abraham bukanlah ujian yang sembarangan. Allah secara spesifik memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan anaknya Ishak sebagai korban bakaran kepada Allah. Betapa berharganya Ishak bagi Abraham secara detail digambarkan dalam ayat 22 “Ambilah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak..” Saudara sekalian Allah tentu tahu betapa kasih Abraham kepada anaknya Ishak begitu besar, anak yang telah dia nantikan begitu lama bersama istrinya.

Allah meminta Abraham untuk memberikan apa yang paling berharga dan bernilai dalam hidupnya. Saudara sekalian tidak seperti keluarga zaman now dengan narasi seperti child free yang “menjangkiti” banyak pasangan muda, di mana memiliki keturunan merupakan pilihan dan bukan keharusan, bagi orang dulu keturunan bagi orang dahulu adalah sesuatu yang bersifat mutlak dan berharga. Bagi orang yang hidup pada zaman dahulu keturunan berarti tanda berkat dan kehadiran Allah dalam keluarga tersebut. Selain itu keturunan adalah sebuah kepastian akan masa depan suatu keluarga. Orang yang tidak memiliki keturunan akan merasa sangat tertekan secara emosional maupun sosial. Tentu berangkat dari situasi ini permintaan Allah adalah ujian dengan level tertinggi yang diberikan kepada Abraham.

Saudara menarik ya, Abraham dalam bagian ini digambarkan sebagai orang yang siap sedia terhadap panggilan Allah. Dalam ayat 1 ketika Allah berkata “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Ketika Abraham mendengar panggilan Allah, seketika itu juga Abraham meresponinya. Dia tidak menunggu Allah memanggil namanya sampai dua kali, ketika mendengar Abraham meresponi. Sikap Abraham yang responsif ini juga ternyata dilanjutkan oleh respon terhadap permintaan Allah ini. Meskipun ini adalah ujian yang berat bagi Abraham dan saya yakin bagi kita semua, tetapi menarik! Abraham taat! Ketaatan Abraham digambarkan dalam ayat 3 “Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham…” Frasa pagi-pagi benar membuktikan bahwa Abraham tidak banyak baveto sama Allah. Saudara kalo saya dalam posisi Abraham, saya pasti bertanya Tuhan bukankah Engkau yang memberikannya padaku?, bukankah Engkau yang memberi nama anak ini?, bukankah Engkau yang janjikan? Namun mengapa sekarang Engkau mau menjadikan dia sebagai korban bakaran? Saya pikir ini adalah respon manusiawi dan wajar bagi kita semua. Tetapi perhatikan saudara sekalian, yang manusiawi dan wajar belum tentu benar. Saudara sekalian, Abraham mengenal siapa Allah, oleh karena itu ketika dia pagi-pagi bangun itu adalah tanda bahwa dia memiliki iman yang kuat kepada Allahnya.

Iman Abraham bukanlah iman yang buta tanpa pengenalan yang benar, iman Abraham yang kuat justru lahir dari pengenalan Abraham yang dalam tentang Allah. Saudara sekalian sebelum Pasal 22 Allah telah berulang kali berjanji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya janji Allah akan digenapi yaitu menjadi berkat bagi banyak bangsa (Kej.12:3;7; 13:15-16; 15:5; 17:7-8: 21:12). Bahkan apabila kita melihat dalam Kejadian 21:12, maka Allah secara spesifik mengatakan bahwa anak perjanjian adalah Ishak.

Pengenalan akan Allah ini dapat dilihat dari dua peristiwa dalam bagian ini. Pertama adalah di ayat 5 ketika Abraham mengatakan kepada dua pembantunya “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi kesana; kami akan sembayang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Saudara apakah Abraham berbohong kepada dua pembantunya ketika dia mengatakan “kami akan kembali kepadamu?” Tidak! Abraham memang yakin dan percaya bahwa dia akan kembali turun bersama-sama dengan Ishak.

Peristiwa kedua dapat dilihat dalam ayat 7 dimana ketika Ishak bertanya kepada Papanya tentang keberadaan domba untuk korban bakaran, maka jawab Abraham “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Dalam hal ini pun apakah Abraham berbohong kepada Ishak ketika dia mengatakan “Allah akan menyediakan anak domba?” Tidak! Kalimat bahwa Allah akan menyediakan memiliki makna teologis yang dalam. Sebelum Allah menyediakan domba, Abraham terlebih dahulu percaya bahwa Allah akan menyediakannya tepat pada waktunya. Meskipun Abraham belum melihat domba untuk korban bakaran, tetapi dia percaya dan beriman bahwa Allah yang akan menyediakannya. Saudara sekalian tidak heran bahwa Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. Dia adalah sosok beriman. Dalam Ibrani 11:19 dijelaskan bahwa Abraham percaya dengan iman bahwa “Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.” Inilah iman unik dan misterius dari Abraham, dia bukanlah orang yang pernah melihat bahwa Allah membangkitkan orang mati, dia juga tidak pernah mendengar apabila Allah pernah membangkitkan orang mati. Tetapi meskipun dia tidak pernah mendengar dan melihat, tetapi dia tetap percaya dan beriman bahwa Allah mampu.

Tepat sebelum Abraham hendak membunuh anak yang tunggal yang dikasihinya si Ishak itu, malaikat Tuhan menyuruh Abraham untuk berhenti. Keberaniaan dan kepercayaan Abraham untuk tidak segan-segan mengorbankan anaknya kepada Allah dilihat oleh Allah. Allah tau bahwa Abraham memiliki iman yang kuat terhadap-Nya. Dan benar saudara sekalian Allah menyediakan domba bagi korban persembahan, seekor domba yang tersangkut dalam semak belukar. Tempat di mana Allah menyediakan domba sebagai pengganti Ishak disebut Abraham sebagai Jehovah Jireh atau TUHAN menyediakan. Jehovah Jireh memiliki makna bahwa Allah menyediakan kebutuhan yang paling dalam dari manusia, yaitu penebusan akan dosa manusia. Ujian kepada Abraham ini adalah sebuah gambaran atau bayang-bayang tentang apa yang Allah sediakan bagi keselamatan manusia.

Sejak awal kebutuhan ini nampak dalam narasi kejatuhan manusia dalam dosa. Dalam pasal 3 ketika untuk pertama kalinya manusia jatuh dalam dosa, maka respon mereka adalah berlari dan bersembunyi. Mereka sadar bahwa mereka telanjang lantas membuat pakaian dari pohon ara untuk menutupi ketelanjangan mereka. Allah yang mengetahui bahwa ciptaan diciptakan seturut gambar dan rupa-Nya telah jatuh dalam dosa, mencari mereka. Dalam Pasal 3:9 Allah berkata kepada manusia yang sedang ketakutan dan bersembunyi itu “Dimanakah engkau?” Allah yang mencari adalah sebuah tema utama sepanjang Alkitab. Allah mencari ciptaan yang rusak yang sedang ketakutan, berlari dan bersembunyi. Dalam pelarian dan persembunyiannya manusia membuat pakaian dari pohon ara untuk menutupi ketelanjangannya. Saudara ini adalah gambaran tentang manusia yang jatuh dalam dosa. Mereka berupaya untuk menutupi dosa mereka dihadapan Allah, ada yang menutupi dengan amal ibadahnya, ada yang menutupi dengan uangnya, ada yang menutupi dengan jabatannya, dan sebagainya. Manusia berpikir dengan semuanya itu, mereka dapat mengibuli Allah.

Dalam pasal 3:21 yang sama maka Allah memberikan sebuah pakaian yang baru dari kulit binatang. Pakaian yang baru ini berbeda daripada pakaian yang dibuat manusia dari pohon ara, pakaian yang diberikan ini berasal dari kulit binatang, ini menandakan bahwa Allah menyediakan hewan korban bagi pakaian manusia. Allah menyediakan, Jehovah Jireh. Saudara sekalian inilah adalah “kisi-kisi atau bayang-bayang” tentang apa yang Allah akan kerjakan dan sediakan dalam rancangan keselamatan-Nya bagi manusia. Sejak awal dalam kisah kejatuhan manusia Allah telah menyediakan korban bagi manusia, dan pada puncaknya Allah menyediakan korban penebusan yang sempurna, satu kali untuk selamanya, apa yang terbaik yang Allah miliki yaitu Anak-Nya yang Tunggal yang Ia kasihi. Dalam surat Ibrani 9:28 “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.” Dalam Injil Yohanes 1:29 Ketika Yohanes pembaptis melihat Yesus, dia mengatakan “lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Dalam surat kepada orang Yahudi penulis surat Ibrani mengatakan di Pasal 9:12 “dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri..” Saudara saya sangat yakin tidak ada narasi dalam kepercayaan manapun di dunia ini yang memberikan gambaran tentang kasih dan pengorbanan dari Allah sang pencipta langit dan bumi beserta segala isinya kepada manusia yang jatuh, rusak dan cemar karena dosa. Allah menyediakan, Jehovah Jireh Anak-Nya yang Tunggal untuk penebusan dosa manusia.

Saudara ada banyak sekali motivasi seseorang untuk memberikan persembahan. Setidaknya ada dua motivasi yang salah dalam memberi persembahan. Motivasi yang pertama adalah agar diberkati melimpah. Saudara pandangan ini sama halnya menanggap layaknya investasi, ketika kita memberikan 100 juta maka kita berharap akan mendapatkan 2 bahkan 3x lipat. Memberikan persembahan layaknya sebuah transaksi ekonomi dengan Allah. Betapa celakanya kita apabila kita berpikir seperti ini, hal ini sama saja menjadikan Allah sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu kita. Mau kita diberkati kembali atau tidak itu bukan bagian dan urusan kita. Ada waktu ketika saya memberikan persembahan dengan Tuhan membalasnya, tetapi di lain waktu ketika saya memberikan persembahan tidak ada yang kembali. Di sini saya belajar betul bahwa mau dikembalikan atau tidak itu bukan urusan saya.

Motivasi yang kedua adalah menutupi rasa bersalah. Ada beberapa orang berpikir dengan memberikan persembahan mereka dapat menutupi pelanggaran-pelanggaran mereka. Mungkin dalam profesi dan usahanya ada banyak penyelewengan dan dosa yang dilakukan, untuk menutupi semua kesalahan maka dia berpikir untuk memberikan persembahan kepada Tuhan, dengan begitu semua dosa dan penyelewengannya dapat ditebus. Saudara sekalian ini yang pernah terjadi di sejarah umat Allah. Amos pada waktu itu menegur umat Allah yang berpikir bisa menutupi pelanggaran mereka dengan mempersembahkan korban. Ketika itu umat Allah sedang tidak menjadi umat Allah yang full timer tetapi part timer. Terjadi perbedaan antara kehidupan di gereja dengan di luar gereja. Sabtu-Minggu jadi anak Tuhan, tapi Senin-Jumat anak siapa pun. Oleh karena itu Allah melalui nabi Amos memperingatkan umat Allah untuk bertobat. Dalam Amos 5:22 “Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajian, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.” Justru Allah ingin umat-Nya hidup dalam kebenaran dan keadilan, dalam ayat 24 dikatakan “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.” Saudara sekalian kita harus ingat bahwa Allah kita bukanlah Allah yang dapat dimanipulatif seperti dewa-dewa Kanaan yang menjadi semacam agen untuk “money laundry.” Allah kita adalah Allah yang adil dan benar.

Lantas apa yang seharusnya menjadi motivasi yang benar ketika kita memberikan persembahan? Persembahan merupakan ucapan syukur kita atas apa yang Allah kerjakan dalam keselamatan kita. Dalam 1 Yohanes 4:19 “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” Kita tahu bahwa persembahan kita tidak akan mempengaruhi apapun dalam keselamatan kita, tetapi itu bentuk ekspresi kasih kita kepada Allah. Karena darah Kristus oleh karena itu kita bisa merdeka untuk mengasihi, kita merdeka dalam memberikan persembahan. Kita memberi persembahan bukan untuk mendapatkan, tetapi justru karena kita sudah mendapatkan. Saudara sekalian pada akhirnya persembahan bukan hanya salah satu ekspresi syukur kita atas apa yang Allah kerjakan dalam kehidupan kita, namun memberikan persembahan juga merupakan instrumen bagi pertumbuhan rohani dari setiap orang yang percaya kepada Tuhan.

 

Penutup

CT Studd merupakan seorang misionari pendiri badan misi WEC Internasional.

Pada usia 25 tahuan dia menerima warisan besar dari keluarganya, namun Studd merasa terpanggil bukan hanya pergi ke China tetapi ambil bagian dalam hal keuangan bagi seluruh pekerjaan misi yang dia kenal. Tanpa ragu Studd sedikitpun menyumbang seluruh harta warisan ke China Inland Mission, gerakan misi di Amerika Serikat, dan memberikan uangnya untuk misi di antara orang miskin di kota London.

Persembahan yang diberikan CT. Studd bagi pekerjaan misi sungguh radikal. Dalam sebuah catatannya CT Studd pernah berkata “jika Kristus adalah Tuhan dan berkorban bagiku, maka tidak ada pengorbanan/persembahan yang terlalu besar yang dapat aku berikan kepada-Nya.” Bagi kita mungkin apa yang dilakukan oleh Studd terlalu berlebihan, tetapi bagi orang yang tahu dan merasakan betapa besar kasih Allah atas dirinya, maka pengorbanan Studd tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Kristus di atas kayu salib. Saudara sekalian, tidak ada pengorbanan, pemberian, ataupun persembahan dari kita yang terlalu besar untuk dapat disombongkan dihadapan Allah. Dalam sejarahnya Allah memakai persembahan Studd untuk melebarkan pelayanan pekabaran Injil ke seluruh dunia. Hari ini WEC Internasional yang merupakan badan misi yang didirikan oleh CT. Studd telah memiliki kurang lebih 1.900 utusan ke lebih dari 70 negara di penjuru dunia. Bahkan beberapa utusan mereka ditempatkan di daerah-daerah paling sulit bagi kekritenan.

Saudara sekalian kita memberikan persembahan karena Allah terlebih dahulu memberikan persembahan yang terbaik bagi penebusan dosa kita. Oleh karena itu tidak ada pengorbanan/persembahan yang terlalu besar yang dapat kita berikan kepada-Nya. Pemberiaan kita bukan saya tanda ucapan syukur kita atas anugerah-Nya yang ajaib, tetapi juga tanda bahwa kita mencintai dan mengasihi Dia.

Penulis : Ev. Antony Hertanto
Facebook
WhatsApp
Renungan Lainnya
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Lukas 9:23
Following Jesus Daily
Penulis : Pdt. Indra Lauw
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Matius 28:19-20
Kembali Ke Pokok Pokok Dasar
Penulis : Ps. Indra Darmawan
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 4 : 35 – 41
Keluarga Kristen di tengah goncangan dunia
Penulis : Ev. Ang Wie Hay
rod-long-DRgrzQQsJDA-unsplash (1) (2)
Markus 16 : 9–20
Kemenangan Kristus Memulihkan Hidup Kita, Meneguhkan Iman Kita, dan Menggerakkan Kita Menjalankan Misi-Nya
Penulis : Pdt. Sentrosel Pailaha