
Tuhan ciptakan ego. ego itu yang membantu kesadaran individu tentang siapa dirinya dan siapa pencipta-nya. namun ketika manusia jatuh dalam dosa, ego ini rusak dalam memahami diri, sehingga manusia yang tidak peka, keras hati, sombong, mau menang sendiri, merasa diri hebat, kadang terlalu percaya diri atau malah kurang percaya diri tidak tahu malu, egois... dst...dst...
Intinya ... tidak tahu siapa dirinya atau tujuan hidupnya.
Oleh sebab itu, seharusnya ego yang seperti ini dipersembahkan dalam altar Tuhan.
Ps. 13 ini ada laporan pandangan mata dari Yohanes. Yang unik dari laporan ini, tidak dicatat dalam Injil lainnya.
Matius, Markus dan Lukas menyampaikan sisi “Perjamuan Kudus”, sedangkan Yohanes pada peristiwa Pembasuhan Kaki dari Murid-murid-Nya. Dari kejadian ini, ada pertanyaan yang “menggelisahkan” [menggelitik?],
“Mengapa Harus Yesus” Mencuci Kaki Mereka?
Kok Bukan Pelayan Dari Si Pemilik Rumah?
Saudara Sekalian Perlu Diketahui:
Bahwa budaya cuci kaki ini menjadi sebuah tradisi yang wajib bagi seluruh orang Yahudi ketika memasuki rumah. Tugas pertama dari tuan rumah untuk memberikan air kepada tamu-tamu undangannya untuk mencuci kakinya (Kej. 18:4, 19:2, 24:32; Hak. 19:21). Ketika si tuan rumah tidak menyediakan air cuci kaki, ini adalah pertanda tidak bersahabat. Orang Israel yang dengan sengaja tidak mencuci untuk beberapa waktu, itu menandakan duka yang mendalam (Band. 2 Samuel 19:24).
Biasanya tuan rumah atau pemilik rumah menyediakan pembantu atau budak/ dulos untuk mencuci kaki para tamu mereka. Terlebih hari itu, ada seorang Rabi [biasanya sangat dihormati] mau berkunjung ke rumahnya., jikalau tidak dilakukan pencucian atas sang rabbi, maka tuan rumah tidak menghormati atau tidak sopan.
Lalu pertanyaan selanjutnya, “Mengapa tidak ada budak di rumah itu?!!!
Untuk menjawabnya, mari kita melihat bagian lain dari peristiwa ini:
Nah kalau melihat Markus 14:13 dan Lukas 22:8-11 maka kita akan mendapatkan sedikit penerangan. ada bagian yang tidak ditulis dalam Yohanes, dalam konteks yang sama, dengan sesuatu yang menarik perhatian kita, yaitu “pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. ikutilah dia” [Ayat 13].
Nah, seseorang yang dikatakan Yesus adalah seorang pria, bukanlah Wanita.
Emangnya kenapa kalau bukan wanita? Nah kalau mengacu pada kata “membawa kendi air”, maka seharusnya dia seorang wanita, karena pekerjaan itu adalah tugas seorang wanita [lihat kasus wanita Samaria; Ribka dalam Kej 24:15-20, juga Rahel Kej 29:9-10].
Siapa seseorang ini?
Oleh sebab itu, sangatlah tepat situasi waktu itu, sehingga 12 murid saling berharap yang lain, yang melayani pembasuhan kaki. Kondisi ini dimanfaatkan Tuhan Yesus untuk mengajar mereka. Murid-murid Yesus telah melihat (1) Sehelai kain linen itu, dan (2) Baskom yang berisi air di situ. Namun tidak ada yang berinisiatif dan rela. Mengapa Bisa Demikian?
Saudara, sebelum peristiwa ini dalam ada permintaan dari Ibu Yohanes Dan Yakobus untuk meminta kedudukan bagi anak-anaknya nanti di surga [Matius 20:21]. Dan perdebatan tentang "siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka" (Lukas 22:24-27), maka dalam kondisi seperti wajarlah, Petrus merasa bahwa dia murid utama, jadi “Mengapa Harus Aku? Dan mereka saling menunggu untuk dilayani terlebih dahulu
C.S. Lewis Berkata “True Humility Is Not Thinking Less Of Yourself; It Is Thinking Of Yourself Less.”
Dalam situasi ini, masuklah ayat 4 “bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya”
Apakah murid-murid senang atas reaksi yesus ini? Tentu Tidak!
Apakah mereka mengerti akan aksi Yesus? Tidak! Oleh sebab itu, yesus bertanya “mengertikah kamu akan apa yang Kuperbuat kepadamu?" Yohanes 13:12] Sampai Yesus selesai membasuh Petrus, dia tetap belum memahami.
Sehingga
Kalimat Pertanyaan “Mengapa Harus Saya?” Menjadi Pernyataan “Harus Mulai Dari Saya.”
Di Tengah-tengah pemahaman, bahwa yang melayani adalah yang rendah, maka momen ini, tidak hanya mengejutkan, tetapi juga menempelak pendengar saat itu. Pendekatan yang Yesus lakukan, tidak pernah “Do As I Say, Not As I Do”. Yesus menunjukkan integritas dan kasih melalui tindakan-tindakan-nya, dia memimpin didepan dengan contoh.
Saudara, kisah ini, tentu bukan hanya sekedar tentang yesus “mencuci kaki” murid-murid, tetapi
Yesus sekali lagi bertanya, “Mengertikah Kamu Akan Apa Yang Kuperbuat Kepadamu?" ayat 12
Charles Swindoll: “Ruangan itu dipenuhi dengan hati yang sombong dan kaki yang kotor. Sesuatu yang menarik adalah bahwa murid-murid itu mau berkelahi untuk suatu takhta, tetapi tidak untuk sebuah handuk / lap kaki).”
Yesus menunjukkan bahwa di kerajaan surga, “Jalan Ke Atas Adalah Dengan Turun Ke Bawah.” Itulah nilai atau prinsip Kerajaan Allah.
Yesus juga ingin memberitahu bahwa membasuh kaki murid-murid jauh lebih mudah, bukan sesuatu yang sulit, tetapi membasuh kaki Yudas, yang sebentar lagi akan mengkhianati diri-nya, itu jauh dari kata mudah. Oleh sebab itu Dia bertanya, ““Mengertikah kamu...?”
Saudara bisa memahami bagaimana perasaan Yesus ketika tahu yang dilayani-nya ini akan mengkhianati diri-Nya? “Mengertikah engkau, betapa beratnya hati-Ku ini... hancurnya hati-Ku, rasanya gagal dalam membimbing Yudas menjadi murid-Nya” Selama ini membimbing mereka... hasilnya?
Pengkhianatan akan terus berulang... motivasi seseorang melayani Tuhan bisa salah seperti Yudas.
Saudara, pertanyaan ini tidak hanya memberitahukan hati-Nya gundah, tetapi juga menjadi kesempatan, pengajaran, teguran, sindiran kecil dan kepekaan sampai kesadaran diri untuk memberi diri dalam panggilan Tuhan dan dimana akhir panggilan itu?
Saudara, apakah 11 lainnya lebih baik dari Yudas? Tentu Tidak. Lihat bagaimana mereka meninggalkan Yesus ketika Dia ditangkap, bagaimana Petrus menyangkali dia, Thomas yang tidak percaya Yesus bangkit.
Ini sebuah tindakan yang lebih sulit daripada tindakan pertama, yaitu membasuh 12 murid-murid-Nya.
Saudara, ketika kita tahu dan sadar siapa saya, maka Tuhan akan lebih mudah merenovasi ego kita dan menjadikan kita hebat bagi dia. Mari, kita belajar terus untuk memahami penderitaan Yesus di minggu kesengsaraan ini.
Penutup
D.L. Moody Pernah Berkata, “The Measure Of A Man Is Not How Many Servants He Has, But How Many Men He Serves. Amin.