Mazmur 103:13
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”
Cara lain menyelesaikan berbagai monster yang ada dalam diri kita adalah lewat reparenting, yaitu proses mengolah-ulang pengalaman keorangtuaan kita yang buruk. Caranya adalah bergaul akrab dengan orang tertentu yang menjadi contoh ayah-ibu yang baik. Orang ini memberi contoh langsung kepada kita mengenai apa dan bagaimana orang tua yang baik. Mereka menjadi “pemeran pengganti” ayah dan ibu yang kita miliki, tetapi selama ini memberikan contoh yang buruk kepada kita.
Saya dibesarkan ayahnya yang alkoholik dan kasar. Ayah sering memukul kami, anak-anaknya, termasuk mama, apalagi kalau ayah sudah mabuk. Untuk menghindari kekasaran papa, mama bahkan pernah tidur di kuburan adik saya. Selain itu, beberapa dari kami tidak dibesarkan oleh ayah dan ibu kandung. Dua diangkat menjadi anak oleh famili dekat. Tidak heran, kami, tujuh bersaudara laki-laki, tumbuh tanpa figur ayah yang benar. Kami tidak mendapat pendidikan formal yang baik dan lima dari kami menjadi pecandu alkohol.
Pengasuhan Sistem Keluarga yang “Sakit”
Sebagai terapis kesehatan mental saya melihat pohon keluarga menjadi salah satu sumber masalah pernikahan dan kesehatan mental individu. Pernikahan dan pribadi yang retak bisa dihasilkan oleh pohon keluarga yang busuk.
Perilaku sesehari ayah dan ibu, dalam hal emosi dan komunikasi mereka sebagai suami istri, seperti film yang suka atau tidak menjadi tontonan wajib. Jika relasi ayah dan ibu sehat, dan berfungsi maka relatif pertumbuhan jiwa kita tumbuh sehat.
Dalam pelayanan konseling kepada pasutri bermasalah, banyak di antara mereka mengalami trauma hebat pada masa kecil, khususnya karena tidak punya figur ayah-ibu yang sehat. Kondisi ini membuat mereka sulit untuk membangun hubungan dengan pasangan.
Di samping itu, tanpa disadari kebiasaan buruk dari generasi di atas, menurun ke anak (yang sekarang sudah membentuk keluarga sendiri). Kepribadian anak dibengkokkan oleh kebiasaan orang tua yang membuat mereka teraniaya secara fisik dan psikis. Akhirnya buah yang dihasilkan dari keluarga seperti orang tua saya adalah buah yang rusak dan retak. Saya mengumpamakannya dengan gelas cinta.
Mereka yang diasuh dengan kasih sayang, selalu punya sesuatu yang bisa dibagi dalam relasi. Tapi yang hidup kurang kasih sayang, gelasnya kecil dan bocor, sehingga dalam hidupnya ia selalu merasa tidak cukup.
Untuk mengubah kebiasaan dan kepribadian buruk ternyata tidak mudah. Ada tiga hal yang biasanya kami sarankan: konseling, training dan reparenting.
Pertama, mengikuti konseling pribadi dengan konselor atau psikolog profesional, guna mengubah paradigma dan kebiasaan buruk masa lalu. Kadang dibutuhkan terapi kelompok, yakni saling membantu di antara beberapa orang dengan masalah yang sama.
Kedua, lewat pelatihan atau training, bisa dengan belajar formal (kuliah), atau menghadiri seminar yang bagus, melalui bacaan yang baik, menikmati buku konseling dan keluarga yang membangun, yang dapat memberikan kesadaran dan contoh baru.
Ketiga, mencari figur yang bisa memberikan teladan sebagai ayah-ibu yang baik. Saya menyebutnya dengan reparenting. Berikut ini adalah contoh pemulihan hidup saya lewat proses reparenting.
Contoh Hidup Saya
Pemulihan pertama terjadi ketika saya bertobat di usia 17 tahun. Pengampunan Tuhan mengubah pandangan saya terhadap orang tua. Mulai muncul keinginan untuk mengenal papa dan mama saya lebih dekat, kemudian memahami alasan mengapa ayah menjadi kasar dan sikap-sikap ibu yang membedakan saya dengan kakak.
Kristus mengubah kehidupan saya, khususnya perilaku yang sebelumnya buruk. Di antaranya saya menjadi suka belajar, senang membaca Alkitab dan membantu beberapa pekerjaan praktis di rumah. Teman-teman saya juga berubah; kalau sebelumnya saya berteman dengan anak-anak yang begajulan, sekarang saya terlibat dalam Persekutuan Siswa Kristen di Medan. Pelan tapi pasti kehidupan kerohanian saya menjadikan saya lebih baik.
Pembentukan kepribadian saya terjadi selama saya kuliah di STT Institut Injil Indonesia dan praktek setahun di Jayapura (1983-1988). Di sini saya belajar disiplin serta bekerja sama dengan mahasiswa lain dari suku dan kebangsaan yang berbeda. Saya mendapat pengertian baru mengenai parenting lewat bapak asrama. Saya belajar bagaimana seharusnya relasi suami dan istri melalui para dosen (yang kebanyakan adalah suami dan istri).
Saya diubahkan lewat konseling pribadi dan kelompok ketika saya kuliah di Sekolah Tinggi Teologia Reformend Injili Indonesia (STTRII) tahun 1998-2000. Konselor saya menggali dengan sangat lihai kehidupan masa lalu saya, yang kebanyakan tersimpan di bawah alam sadar, kemudian memberikan pengalaman baru yang memulihkan hidup saya. Interaksi dengan mahasiswa lain dalam konseling kelompok membantu saya menemukan teman senasib.
Bacaan, seminar, DVD dan sejenisnya membuka wawasan saya mengenai pentingnya konseling dalam upaya pemulihan masa lalu yang buruk. Saya mendapat pemahaman baru tentang betapa pentingnya ayah dan ibu saya lewat DVD ceramah berjudul “Love, Sex and Relationship” yang dibawakan Pam Stenzel. Di sana saya menyadari bahwa walaupun dalam berbagai hal orang tua saya gagal dan tidak berfungsi, tetapi merekalah yang membuat saya ada di dunia ini. Hal terpenting yang dilakukan orang tua saya adalah mereka memberi saya hidup.
Takut Jadi Ayah
Ternyata itu semua belumlah cukup untuk saya. Ini saya sadari ketika saya menjadi ayah tahun 1993. Anak sulung saya bernama Josephus. Saat Jo lahir, ada perasaan senang luar biasa dalam diri saya. Saya sudah menjadi Ayah. Namun, perasaan senang itu hanya sekejap. Mendadak muncul rasa takut dan cemas. Timbul pertanyaan yang menggelisahkan dalam pikiran saya, ”Apakah saya bisa menjadi Ayah yang baik buat Josephus?”
Saya tidak bisa menjawabnya. Diam-diam saya gelisah, ”Oh, Tuhan tolong saya supaya tidak gagal menjadi Ayah…”
Saya memang merasa tidak yakin bisa jadi ayah yang baik. Saya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan itu. Mengapa? Sebelum Jo lahir, saya adalah suami yang buruk bagi mamanya. Kami sudah menikah dua tahun baru Josephus lahir. Selama dua tahun itu pernikahan kami penuh konflik. Meskipun saya punya teori bagaimana menjadi suami yang baik, tapi dalam prakteknya saya adalah suami buruk. Saya sering membuat istri susah dan menangis. Saya menjadi kuatir, jangan-jangan saya punya teori tentang Ayah yang baik, tapi gagal menjadi ayah yang baik buat Jo.
Ternyata benar. Dalam beberapa tahun pertama kehidupan anak sulung maupun si bungsu, saya merasa gagal. Miskinnya skill menjadi Ayah, membuat saya lebih banyak menyerahkan pengasuhan anak pada istri saya. Jelas saja istri saya keberatan, sebab dia pun bekerja. Sering malam hari saya malas bangun membantu istri mengganti popok bayi Jo. Itu baru satu masalah.
Masalah lain adalah, cara saya mendidik cenderung membiarkan, sebab saya tidak tahu cara mendisiplin. Beda dengan istri saya yang biasa dibesarkan mamanya dengan disiplin. Itu masalah kedua yang membuat kami sering ribut. Istri merasa dirinya benar, saya merasa cara sayalah yang paling benar.
Ketiga, saat si bungsu lahir, konflik kami berbeda. Saya lebih kasar dengan yang si bungsu. Istri saya lebih lembut. Saya tidak setuju, saya merasa mendidik anak bungsu kami harus keras. Istri saya justru memilih sikap berbeda dari saya.
Karena perasaan gagal mengasuh anak pertama, saya sempat keluar dari pekerjaan pada tahun 1996. Saya memutuskan kuliah di bidang konseling. Saya juga menjumpai dua konselor saya secara rutin selama satu tahun untuk membenahi diri saya. Belajar konseling keluarga ternyata sangat membantu, meski prosesnya panjang
Belajar Ulang Jadi Ayah
Pohon keluarga saya dan istri berbeda. Pola asuh Ayah mertua saya memang lembut, ramah dan demokratis. Saya dibesarkan ayah seorang polisi yang suka minum alkohol, cenderung keras, kasar dan otoriter. Ternyata tanpa sadar, emosi saya sebagai Ayah telah terkontaminasi emosi ayah saya. Bawaan saya juga keras dan cenderung kasar pada si bungsu. Lewat kuliah saya sadar bahwa saya miskin teladan keayahan dari Ayah kandung.
Kegagalan saya sebagai Ayah di tahun awal usia anak kami membuat saya memilih belajar ulang cara menjadi seorang Ayah. Selain membaca dan ikut kuliah konseling berbasis keluarga, saya mencari teladan dari seorang Ayah.
Ada tiga figur ayah menjadi teladan bagi saya:
Pertama, saya memang mendapat teladan yang baik dari Ayah mertua. Dia adalah figur ayah yang lembut, tidak banyak bicara tapi sangat demokratis dengan anak-anak. Dia rela berkorban bagi ketujuh anaknya, dan sebagainya.
Kedua, saya juga belajar dari seorang sahabat saya, seorang ahli gempa. Super sibuk, pandai dan kaya. Namun dia sangat peduli pada anak-anak. Perangainya menampakkan seorang Ayah yang bertanggung jawab pada keluarga. Sikapnya kepada istri juga mempengaruhi saya. Dia suami teladan bagi saya.
Ketiga, saya terinspirasi sikap salah satu dosen saya, seorang Guru Besar di bidang pendidikan. Meski beliau seorang profesor terkenal, dia yang terkenal ramah dan kebapakan. Dia sangat peduli pada mahasiswanya. Berusaha menyapa kami dengan penuh perhatian, dan tak jarang mengundang kami makan malam bersama di rumahnya. Ini adalah kesempatan bercakap-cakap, menanyakan kondisi kami sesungguhnya. Jika mahasiswa benar-benar butuh bantuan uang, tak segan dia membayarkan uang kuliah, dan sebagainya.
Dalam perjalanan waktu, 33 tahun setelah pertobatan saya yang pertama, dan 21 tahun masa pernikahan saya, Tuhan memulihkan pohon keluarga saya yang buruk. Saya mendapatkan kasih sayang dari istri dan anak-anak saya. Hidup saya berubah. Saya bergairah menjalani visi hidup saya, yaitu melihat berdirinya pusat-pusat kesehatan mental di setiap propinsi di Indonesia pada tahun 2030. Semoga Tuhan mengizinkan saya melihat visi ini terwujud.
Menjadi Ayah sungguh istimewa, tapi tak mudah. Tidak ada sekolah khusus untuk itu. Sesungguhnya sekolah Ayah itu di rumah. Gunakanlah kesempatan ini melatih anak-anak dengan memberi teladan atau figur Ayah yang baik. Sebab mereka akan tiru dan teruskan pada cucu-cucu kita.
Jika dulu kita tidak mendapatkan teladan baik dari ayah kandung kita, berusahalah belajar ulang. Selain dengan membaca dan hadir di seminar, bergaullah dengan beberapa pria dewasa (atau wanita dewasa untuk para istri dan ibu) yang terbukti adalah Ayah yang baik bagi anak-anaknya. Lihat dan teladani. Tidak ada yang terlambat, selama kita mau belajar. Karena salah satu yang kita wariskan pada anak anak adalah: teladan menjadi ayah dan ibu.
Bahan Diskusi
Apakah Anda punya figur ayah dan ibu yang berfungsi? Jelaskan.
Bagaimana Anda menjalankan peran sebagai ayah dan ibu (suami dan istri) dalam keluarga Anda sekarang?
Bila figur keorangtuaan Anda bermasalah, apa yang Anda rencanakan untuk lakukan agar Anda dapat berfungsi lebih baik?
Proyek Ketaatan
Evaluasilah pola pengasuhan yang Anda terima dari orangtua dan bagaimana hal itu mempengaruhi cara Anda dalam membesarkan anak. Identifikasi area-area yang perlu diperbaiki dan carilah contoh orangtua yang dapat Anda teladani dalam hal tersebut.
Jika Anda memiliki luka batin akibat pola asuh yang tidak sehat, pertimbangkan untuk mengikuti konseling Kristen profesional. Berdoalah memohon penyembuhan dan pemulihan dari Allah.
Sebagai orangtua, berinvestasikan waktu untuk membangun hubungan yang penuh kasih dan komunikasi terbuka dengan anak-anak Anda. Jadilah teladan karakter Kristus bagi mereka, termasuk meminta maaf ketika Anda melakukan kesalahan.
Tidak ada orangtua yang sempurna, namun kita dapat bersandar pada anugerah dan hikmat dari Allah dalam perjalanan ini. Berdoalah rutin sebagai pasangan agar Tuhan memberdayakan Anda untuk menjadi ayah dan ibu yang takut akan Tuhan dan membawa dampak bagi generasi berikutnya.
Proyek ketaatan ini menolong pasutri menyadari pengaruh dari pola asuh yang mereka terima, serta aktif mengambil langkah untuk memperbaiki pola yang tidak sehat dan mengembangkan cara pengasuhan yang alkitabiah. Ini adalah proses pertumbuhan seumur hidup yang mengandalkan anugerah Tuhan. Dengan ketekunan dan doa, rantai pola tidak sehat bisa diputuskan dan warisan rohani yang baik dibangun bagi keturunan kita.
Materi Lainnya