Materi Pasutri

Pola Allah bagi Keluarga Kristen

Efesus 5:28-29

“Demikianlah suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri.  Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.”

Allah Tritunggal adalah pola utama bagi hubungan keluarga Kristen.  Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki keunikan pribadi namun sekaligus bersatu sempurna dalam kasih (Yohanes 17:21-23).  Demikian juga dalam keluarga Kristen, Allah merancang agar setiap anggota keluarga tetap mempertahankan keunikan pribadinya, namun sekaligus membangun kesatuan di dalam Kristus.

Fondasi dari kesatuan keluarga Kristen adalah perjanjian kasih Allah yang tak bersyarat bagi kita.  "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kasih Allah bagi kita tidak didasarkan pada perbuatan kita, melainkan semata karena anugerah-Nya.  Perjanjian kasih inilah yang harus menjadi dasar dari hubungan suami istri dan orang tua kepada anak.  Sama seperti Kristus mengasihi gereja-Nya, demikianlah suami harus mengasihi istrinya (Efesus 5:25).   Orang tua pun harus mengasihi anak mereka tanpa syarat, seperti Allah mengasihi kita sebagai anak-anak-Nya (1 Yohanes 3:1).

Contohnya, seorang suami tetap setia dan mengasihi istrinya yang sedang sakit keras, walaupun sang istri tidak dapat lagi melayani dia seperti dulu.  Atau, orang tua yang dengan sabar mendampingi anak remajanya yang memberontak dan tidak taat, sambil terus mendoakan dan mengupayakan yang terbaik baginya.  Kasih yang berkorban dan tidak menyerah inilah yang mencerminkan kasih Kristus bagi kita.

Perjanjian kasih ini menjadi dasar bagi anugerah, saling membangun, dan keintiman dalam keluarga. Dari fondasi perjanjian kasih, keluarga Kristen dapat menjadi tempat di mana anugerah Allah dialami secara nyata.  Ketika ada anggota keluarga yang bersalah, seharusnya ia mengalami pengampunan dan pemulihan, bukan penolakan atau penghakiman.  Paulus menasihati, "Tetapi Kristuslah yang diutamakan dalam segala sesuatu.  Sebab itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.  Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain..." (Kolose 3:13-14)

Seorang remaja yang hamil di luar nikah seharusnya tetap diterima dan didukung oleh orang tuanya, seperti bapa yang menyambut si anak bungsu dalam perumpamaan Yesus (Lukas 15:11-32). Meskipun demikian, atmosfer anugerah bukan berarti tanpa aturan atau disiplin. Seperti bapa yang mendisiplin anak yang dikasihinya (Ibrani 12:7-11), orang tua Kristen pun harus mendisiplin anak mereka, namun dengan penuh kasih dan belas kasihan, bukan dengan amarah atau kekerasan.

Perjanjian kasih juga membuat setiap anggota keluarga mau mendukung dan membangun satu sama lain. Suami istri harus saling "menajamkan" seperti besi menajamkan besi (Amsal 27:17), misalnya dengan berdoa dan belajar firman Tuhan bersama, saling mengingatkan, mendukung pelayanan satu sama lain, dll.  Orang tua pun harus mendidik anak mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).  Misalnya dengan mengajar anak berdoa, beribadah bersama, membaca Alkitab bersama, memberi teladan dalam melayani, dsb.

Perjanjian kasih memungkinkan adanya keterbukaan dan keintiman dalam keluarga. Keluarga harus menjadi tempat di mana setiap orang dapat mengungkapkan pergumulan, perasaan, dan pemikiran terdalam tanpa takut dihakimi.  Seperti Daud yang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan (Mazmur 62:9), anggota keluarga harusnya dapat saling berbagi secara mendalam satu sama lain.  Untuk itu, kualitas seperti kerendahan hati untuk mendengar, kepekaan akan perasaan pasangan/anak, kesediaan meminta maaf, kejujuran, dll. perlu terus dikembangkan.

 

Ketika anugerah, saling membangun, dan keterbukaan terus dipraktikkan, itu akan semakin meneguhkan dan memperdalam perjanjian kasih dalam keluarga. Keluarga yang dibangun di atas perjanjian kasih akan mengalami pertumbuhan yang progresif dalam mengasihi, melayani, dan berelasi satu sama lain.

Terakhir, keluarga Kristen harus terus berpusat kepada Kristus dan bukan kepada diri sendiri. Kasih Kristus yang rela berkorban bagi kita harus menjadi kekuatan dan teladan dalam mengasihi keluarga kita. ". . . dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya. . . ." (Efesus 5:2). Ketika kita berfokus kepada Kristus dan bukan diri sendiri, kita dibebaskan untuk mengasihi tanpa pamrih, melayani dengan sukacita, mengampuni dengan tulus, dan berkorban dengan rela.  Hanya dengan menjadikan Kristus sebagai pusat, keluarga kita dapat bertumbuh sesuai dengan rancangan-Nya.

 

Pertanyaan Diskusi

 

Proyek Ketaatan

Suami istri mempraktikkan saling meminta maaf dan mengampuni, kemudian merencanakan satu kegiatan untuk lebih saling mendukung pertumbuhan rohani masing-masing.  Kegiatan dapat berupa doa berpasangan, saling mendorong membaca Alkitab, dsb.  Rencanakan dan laksanakan proyek ini dalam seminggu ke depan! 

Materi Lainnya

Memberi Dari Kekurangan
Kategori : Gender
Bacaan: Markus 12:41-44 Hafalan: Markus 12:44 "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya,...
God’s Heart
Kategori : Gender
Bacaan: Yunus 4:1-11  Hafalan: Yunus 4:11 "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang...
Detour (Berbalik Arah)
Kategori : Gender
Bacaan: Yoel 2:12-13 Hafalan: Yoel 2:12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan...
Reparenting
Kategori : Pasutri
Mazmur 103:13 “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”...
Keluarga yang Sehat: Menyeimbangkan Kebersamaan dan Kemandirian
Kategori : Pasutri
Kejadian 2:24 “Karena itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga...
Pola Allah bagi Keluarga Kristen
Kategori : Pasutri
Efesus 5:28-29 “Demikianlah suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang mengasihi istrinya mengasihi...