Bacaan: Markus 12:41-44
Hafalan: Markus 12:44
"Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."
Dapat angpao atau bagi-bagi angpao diwaktu Sincia atau Tahun Baru Cina itu hal yang biasa. Ada kisah menarik dari dua anak asal Tiongkok yang pertama anak laki-laki bernama Wang Zihao, umur 10 tahun, dia mendapat angpao sebesar 800 yuan (sekitar 1,7 juta rupiah) dari keluarganya. Uang2 itu tidak dibelanjakan atau dipakai untuk dirinya sendiri tapi disumbangkannya untuk bantuan para korban gempa bumi. Wang mengatakan bahwa ia ingin berbagi dengan orang2 yang menderita dan berharap mereka bisa segera bangkit dan bahagia. Yang kedua: anak perempuan bernama Chen Yuxin, umur 12 tahun, mendapat angpao sebesar 2000 yuan (sekitar 4,3 juta rupiah) dari keluarganya. Uang2 itu tidak disimpan untuk dirinya sendiri, tapi dia berikan kepada seorang nenek miskin yang sering mengemis di dekat rumahnya. Anak itu mengatakan bahwa ia ingin sekali membantu nenek itu dan dia berharap nenek itu bisa hidup lebih baik. Kisah dua anak kecil Wang dan Chen menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Mereka masih kecil, tapi sudah paham arti memberi. Mereka rela berbagi apa yang mereka punya untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan.
“Memberi dari kelebihan memang mulia, tapi memberi saat diri sendiri kekurangan menunjukkan pengorbanan dan kasih yang luar biasa.”
Mengambil contoh dari kisah tentang persembahan si janda miskin dalam Alkitab Markus 12:41-44. Ada seorang janda miskin yang tidak mendapat banyak perhatian, ia berdiri di depan kotak persembahan dan memberikan persembahannya. Ia kalah mempesona dibanding dengan orang-orang yang sebelumnya ada disana juga. Orang-orang itu memberikan uang dalam jumlah yang besar, sedang janda miskin yang terlihat lusuh itu hanya memberi dua peser. Pantas saja tidak ada yang memperhatikan, kecuali Yesus. Dalam ayat 41 ada frasa “Yesus memperhatikan” yang menjelaskan bahwa Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memberikan persembahan. Orang kaya memberi banyak dari kelimpahan tetapi janda miskin memberi lebih banyak karena ia memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.
Kisah persembahan janda miskin baik dalam Markus 12:41-44 maupun dalam Lukas 20:45-47 ditempatkan setelah Yesus mengecam keserakahan dan kesombongan para ahli Taurat. Penempatan ini menunjukkan kontras yang mencolok antara kesalehan palsu para ahli Taurat dan kesalehan sejati janda miskin. Ahli Taurat, yang seharusnya menjadi teladan bagi umat, seringkali terjebak dalam kemunafikan. Mereka menyalahgunakan posisi mereka untuk memeras dan mengeksploitasi orang-orang yang lemah, termasuk janda yang rentan. Mereka memamerkan kesalehan mereka didepan umum, mereka mencari pengakuan dan pujian manusia, bukannya tulus ingin menyenangkan Tuhan. Mereka terobsesi dengan kekayaan, mengabaikan kebutuhan orang lain dan hanya memikirkan keuntungan pribadi. Sedangkan janda miskin mau memberikan seluruh nafkahnya, memberi dari kekurangannya, memberi dengan ketulusan hati dan pengorbanan. Di balik kisah kemurahan hatinya, terdapat realita pahit kehidupan janda pada masa itu. Janda sering menjadi korban ketidakadilan, penindasan, dan kekerasan. Hak-hak mereka dirampas, dan mereka hidup tanpa perlindungan dan jaminan sosial. Kisah janda miskin ini menjadi simbol penderitaan dan jeritan para janda yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
Mengapa Persembahan Janda Miskin Menarik Perhatian Yesus? Ada beberapa alasan: Pertama, janda miskin ini tetap memberi meski dalam kesulitan, kekurangan. Yang ia berikan memang sangat sedikit. 2 Peser.. Peser merupakan satu-satunya koin Yahudi yang disebut dalam Perjanjian Baru. Uang ini terbuat dari perunggu. Peser sering juga disebut dengan ‘lepton’ yang artinya kecil atau mungil. Sehingga peser dapat diartikan sebagai mata uang paling rendah atau paling kecil nilainya dan memiliki ukuran yang kecil juga. 1 peser/lepton nilainya setengah duit, sehingga 2 peser berarti satu duit.
Sekalipun janda itu hanya bisa memberi sedikit, ia tetap memberi, ia tidak mau datang kepada Tuhan dengan tangan hampa, meskipun dia sendiri membutuhkan bantuan. Persembahan janda miskin ini mirip dengan persembahan dari jemaat Makedonia yang tercatat dalam 2 Korintus 8:1-5 meskipun jemaat ini dalam berbagai penderitaan mereka begitu bersukacita untuk membantu jemaat lain yang dalam kondisi kesusahan juga.
Alasan kedua, janda miskin ini memberikan semua yang ia miliki. Di Lukas mencatat ada perbedaan kata ‘miskin’ yang digunakan dalam Lukas 21:2 dan ayat 3. Diayat 2 Lukas menggunakan kata PENIKHROS yang berarti ‘miskin tetapi masih mempunyai sesuatu’ tapi di ayat 3 setelah janda itu memberikan semuanya, Lukas menggunakan kata PTOKHOS yang berarti ‘miskin, tidak punya apa-apa’. Yesus menghargai persembahan janda miskin karena dia memberi dengan penuh pengorbanan. Dia rela mengorbankan kebutuhannya sendiri untuk menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan.
Alasan Ketiga, janda miskin ini memiliki iman yang besar. Persembahan janda miskin menunjukkan imannya yang besar kepada Tuhan. Dia percaya bahwa Tuhan akan memeliharanya dan memang memeliharanya. Dia mengutamakan Tuhan dan menunjukkan ketergantungannya kepada Tuhan.
Melalui kisah janda miskin, ada beberapa pesan penting tentang hal memberi selain kepada Tuhan juga kepada sesama.
● Memberi: Sebuah Kehormatan
Ketika kita memberi, kita dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kepercayaan ini merupakan sebuah kehormatan yang luar biasa.
● Memberi: Sebuah Kesempatan
Memberi juga merupakan kesempatan untuk berbagi berkat yang telah kita terima dari Tuhan. Ketika kita memberi, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan atas berkat-berkat yang Dia limpahkan. Memberi adalah cara kita untuk mengucapkan terima kasih dan memuliakan nama Tuhan.
● Memberi: Tidak Harus Menunggu Kaya
Yesus tidak meminta kita untuk menunggu sampai kita kaya untuk memberi. Kita dapat memberi dari apa yang kita miliki saat ini, meskipun itu tidak banyak. Bahkan, janda miskin dalam kisah tersebut memberikan semua yang dia miliki.
● Memberi: Menumbuhkan Sukacita
Memberi bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang menumbuhkan sukacita dalam diri kita sendiri. Ketika kita memberi dengan tulus, kita akan merasakan kepuasan dan kedamaian yang luar biasa. Memberi adalah investasi yang mendatangkan kebahagiaan dan sukacita bagi diri kita sendiri dan orang lain.
Memberi tidak harus dalam bentuk uang, tetapi bisa juga dalam bentuk waktu, tenaga, keahlian, perhatian, dan kasih sayang. Setiap tindakan memberi, bahkan sekecil apapun itu, memiliki nilai yang besar di mata Tuhan dan dapat membawa perubahan yang positif bagi dunia.
Pertanyaan Diskusi:
Bagaimana Saudara terinspirasi oleh kisah janda miskin?
Bagaimana Saudara dapat menerapkan prinsip memberi dengan iman dalam kehidupan Saudara?
Apa saja tindakan memberi yang dapat Saudara lakukan dengan penuh pengorbanan dan ketulusan?
Materi Lainnya