Materi Gender

Detour (Berbalik Arah)

Bacaan: Yoel 2:12-13

Hafalan: Yoel 2:12

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." 

Kitab Yoel ditulis dalam nuansa teror dan mencekam. Yang terjadi adalah Bangsa Israel sedang dilanda wabah belalang yang sangat hebat. Alkitab menceritakan bahwa belalang merupakan salah satu bentuk penghukuman yang hebat dari Allah (mengingat kembali belalang merupakan tulah ke - 8 bagi bangsa Mesir). Belalang adalah binatang yang menimbulkan kerusakan dan kekacauan yang masif. Belalang tidak pernah hadir sendirian, melainkan ia bergerak secara bergerombolan yang sangat besar. Begitu besar dan mengerikan hingga Nabi Yoel menjelaskan di ayatnya yang ke – 5 sampai 7 bahwa kedatangan pasukan belalang ini selayaknya gemeretaknya kereta-kereta, seperti geletiknya nyala api, seperti suatu bangsa yang kuat, seperti pejuang mereka berlari, seperti prajurit mereka menaiki tembok. Bahkan Nabi Yoel bukan hanya berbicara tentang kerusakan yang dibawa oleh wabah belalang ini, melainkan wabah belalang ini juga merupakan iluminasi akan pasukan Kerajaan Allah yang akan datang pada hari Tuhan nantinya. 

Lantas apa yang menyebabkan Bangsa Israel harus menanggung semua ini? Allah kita adalah Allah yang setia pada perjanjian-Nya. Ia mengangkat bangsa Israel menjadi kepunyaan-Nya dan mengundang bangsa Israel untuk jadi sama dengan Dia yang adalah kudus. Namun kehidupan bangsa Israel justru adalah kehidupan yang mengkhianati Allah. Ketidaktaatan dan kecemaran hidup mewarnai kehidupan Bangsa Israel. John Calvin berkata bahwa sumber utama dari kehancuran manusia adalah ketika ia menaati dirinya sendiri. Dan kehancuran inilah yang terjadi pada Bangsa Israel ketika mereka memilih untuk menaati dirinya sendiri. 

Dalam kondisi yang terancam ini, Bangsa Israel tidak lagi merasa ada harapan bagi mereka untuk bisa pulih dan berobat. “Sudah terlanjur”, mungkin itu yang ada di dalam benak mereka. Melihat murka Allah, membuat mereka berpikir tidak ada lagi jalan untuk berbalik dan pulih. There is no other way. Namun di tengah murka-Nya, Allah justru memanggil Bangsa Israel untuk kembali kepada-Nya. Ayat 12 dinaungi dengan kasih yang hangat ketika Allah berkata: “Tetapi, sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis, dan meratap.” Tidak ada kata terlambat bagi Bangsa Israel untuk bertobat dan berbalik kepada Allah. 

Bertobat dan berbalik seperti apa yang dikehendaki Allah? Jawabannya adalah pertobatan hati, bukan pakaian (ay.13). Ritual yang dilakukan tanpa hati yang sesuai adalah kepalsuan yang penuh dengan bual. Hal ini dikarenakan manusia sangat digerakkan oleh hatinya. Maka kemana hati kita bergravitasi, kesanalah juga kita akan beraksi. Perintah Allah kepada Bangsa Israel untuk berbalik kepada-Nya hendak menyoroti hati Bangsa Israel yang tidak lagi terarah pada-Nya. Namun karena kasihNya, Ia kembali memanggil umat-Nya untuk berbalik dan pulang ke dalam dekapan pelukan-Nya. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat dan kembali kepada Allah yang mengasihi dan menantikan kepulangan kita. 

Oleh karena kasih jugalah, perintah untuk berbalik kepada-Nya bukanlah hanya perintah belaka, melainkan dilanjutkan dengan penjemputan. Allah lahir ke dunia untuk menjemput kita. Ia datang menjadi sama dengan manusia supaya kita tahu jalan untuk mencapai tujuan kita, yaitu kekekalan bersama-Nya. Yohanes 14: 6 dengan jelas menyatakan bahwa “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Allah yang memberikan tujuan juga adalah Allah yang akan menuntun perjalan menuju tujuan itu. Kristus mau datang ke dunia bagi kita semua untuk menjemput dan menunjukkan jalan. Ia mati di atas kayu salib supaya kita bisa berbalik kepada-Nya. 

Namun sayangnya sebagai manusia berdosa, hati kita tidak secara otomatis terarah pada Kristus. Ketika kita sadar telah mengambil jalur yang keliru, kita tidak langsung berputar arah untuk kembali ke jalan yang benar. Justru seringkali yang terjadi adalah kita menutupi kesalahan dengan kesalahan lainnya. Alhasil, kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin tersesat dan berujung pada kebinasaan. Namun sekarang juga Allah menantikan kita untuk berbalik dan pulang kepada-Nya. Maukah kita berbalik kepada Dia yang menantikan dan mengasihi kita? 

Diskusi Kelompok

  1. Kemana hati anda bergravitasi? Apa yang menjadi penggerak utama dalam kehidupan anda?
  2. Pernahkah anda merasa tersesat dan hilang arah? Jika ya, bagaimana cara anda menemukan kembali arah yang benar?
  3. Apa yang akan menjadi komitmen anda untuk bisa terus berbalik kepada Allah ketika dunia terus menggoda untuk menjauh dari Allah

Proyek Ketaatan

Buatlah sebuah komitmen untuk bisa berbalik kepada Allah.

Materi Lainnya

Memberi Dari Kekurangan
Kategori : Gender
Bacaan: Markus 12:41-44 Hafalan: Markus 12:44 "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya,...
God’s Heart
Kategori : Gender
Bacaan: Yunus 4:1-11  Hafalan: Yunus 4:11 "Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang...
Detour (Berbalik Arah)
Kategori : Gender
Bacaan: Yoel 2:12-13 Hafalan: Yoel 2:12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan...
Reparenting
Kategori : Pasutri
Mazmur 103:13 “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”...
Keluarga yang Sehat: Menyeimbangkan Kebersamaan dan Kemandirian
Kategori : Pasutri
Kejadian 2:24 “Karena itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga...
Pola Allah bagi Keluarga Kristen
Kategori : Pasutri
Efesus 5:28-29 “Demikianlah suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang mengasihi istrinya mengasihi...