Post: POLA HIDUP SEDERHANA DALAM PEMELIHARAAN TUHAN Keluaran 16:13-24 (MTPJ 2 Juli 2017)

Praise-the-Lord

POLA HIDUP SEDERHANA DALAM PEMELIHARAAN TUHAN
Keluaran 16:13-24
~ MTPJ ~
“ Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan,
tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.” (AMSAL 3:1-4)

Gaya hidup yang konsumtif, mewah dan boros telah mewarnai kehidupan manusia di
era Post Modern saat ini. Ada banyak kebutuhan hidup yang dahulunya bukan
kebutuhan pokok telah menjadi kebutuhan pokok. Alam ciptaan Tuhan tidak cukup
lagi memenuhi kebutuhan manusia karena prilaku manusia yang ‘tamak’.
Orang yang ‘tamak’ adalah orang yang merasa kuatir akan masa depannya. Orang
tersebut tidak percaya pada Providentia Dei (Pemeliharaan Tuhan atas ciptaan),
sehingga mereka ingin hidup dalam kelimpahan ekonomi. Ketika manusia hidup dalam
kelimpahan dan kemakmuran, manusia jatuh dalam cobaan untuk menyalahgunakan
kemakmuran sebagai karunia Tuhan dengan hidup boros, tamak dan pesta pora tanpa
kontrol iman dan tanpa ucapan syukur yang didasarkan dalam iman. Pola hidup sepert
ini adalah tanda tidak percaya dalam pemeliharaan Tuhan serta mengakibatkan
semakin terbatasnya sumber daya alam yang disediakan Tuhan. Hidup yang sederhana
dan tenang, tidak kikir tetapi hemat dan sederhana menjadikan manusia hidup dalam
kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Keluarnya umat Israel dari tanah perbudakan di Mesir merupakan peristiwa utama
sejarah keselamatan dalam Perjanjian Lama. Melalui peristiwa ini, Tuhan Allah
menggenapi janji-Nya kepada bapak leluhur Israel bahwa Ia memberikan tanah
kepada mereka dan keturunannya untuk menjadi bangsa yang besar. Pada hari kelima
belas bulan kedua, setelah keluarnya bangsa Israel di Mesir tibalah mereka di padang
gurun Sin yang terletak di antara Elim dan gunung Sinai. Di tempat inilah umat
kekurangan makanan sehingga mereka bersungut-sungut kepada Musa dan Harun
dengan membandingkan hidup mereka di Mesir. Sungut-sungut itu sebenarnya
ditujukan kepada Tuhan karena ketidak-percayaan pada pemeliharaan Allah bagi
mereka. Sehingga Tuhan berfirman bahwa Ia akan menurunkan hujan roti dari langit
untuk menjawab rasa kuatir akan masa depan mereka. Roti dari sorga disebut orang
Israel dengan “manna”. Ketika Tuhan memberikan “manna” Tuhan berfirman,
“Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya segomer setiap orang” (1 gomer
= 3,6 liter); adalah cara Tuhan mendidik umat-Nya untuk tidak hidup dalam ketamakan
Akan tetapi umat melanggar perintah Tuhan, mereka terpengaruh dengan
kemakmuran lalu menjadi tamak dengan mengumpulkan
melebihi dari kebutuhan hidup mereka. Akibatnya Musa
memarahi umat Israel karena ketidaktaatan mereka kepada
Firman Tuhan.
Hidup dalam kekuatiran membuat umat manusia tidak percaya
akan pemeliharaan Tuhan. Tuhan Yesus mengajarkan murid-
muridnya berdoa: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami
yang secukupnya.” Doa ini menunjukan bahwa umat Tuhan tidak
perlu kuatir akan kebutuhan hidup sebab semuanya ada dalam
pemeliharaan Tuhan. Burung-burung di udara yang tidak menabur
dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung
diberikan makan oleh Tuhan apalagi kita manusia.

portrait-of-pleasant-looking-european-brunette-gir-2021-08-31-04-10-26-utc-1.jpg
Volunteer
Martha Rivera
Pellentesque massa placerat duis ultricies lacus sed turpis. Nulla facilisi etiam dignissim diam quis enim. Gravida cum sociis natoque penatibus et magnis dis. Vestibulum rhoncus est pellentesque elit ullamcorper.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *